Pahit-Manis Masa Muda

Perhatikanlah dua kisah di bawah ini. Dua kisah laki-laki setengah baya yang mempunyai derajat sosial yang sama. Menurut Anda, yang mana di antara mereka yang telah melakukan kekeliruan? Dan jangan lupa bahwa dua kisah ini sekaligus mewakili kehidupan masyarakat kita sehari-hari.

Kisah yang pertama hadir dari seorang pria berumur 35 tahun yang telah melewati masa mudanya dengan belajar dan bekerja keras. Karena saking giatnya belajar ia mendapatkan jurusan terbaik di salah satu kampus terbaik pula. Sehari-harinya, ia begitu banyak membaca buku dan melakukan penelitian-penelitian terbaru. Selain belajar, ia juga memanfaatkan waktu luangnya untuk bekerja partial time dengan mengajar les. Setelah menyelesaikan kuliahnya, ia bekerja di salah satu perusahaan. Meski tak diupah banyak, ia tetap melakukannya dengan senang hati. Dia pikir, inilah saatnya bagi saya untuk mengembangkan dan mematangkan potensi yang ada. Upah yang didapatkan selama ini, ia gunakan untuk memenuhi kebutuhan pokok hidupnya dan sisanya ia tabungkan. Akhirnya tak lama setelah itu, ia joke menikah dan sekarang ia mempunyai seorang anak perempuan yang lucu.

Ia berkata, “Aku tak melihat kebahagiaan dalam masa mudaku (antara 20 sampai 30 tahun). Aku melewatinya untuk belajar dengan sungguh-sungguh dan di saat teman-teman berfoya-foya, aku bekerja di pasar.”

Kalimat yang jadi perhatian penulis adalah ‘aku tak melihat kebahagiaan dalam masa mudaku’.

Kisah yang kedua juga hadir dari seorang pria berumur 36 tahun yang dengan susah-payah menamatkan gelar Diplomanya. Ia melewati masa mudanya dengan penuh kemudahan dan karena ayahnya punya harta berlimpah sampai sekarang ia masih sendiri dan belum beristri.

Dengan harta ayahnya, ia tak membutuhkan pekerjaan. Apa yang ia butuhkan tinggal ia minta kepada sang Ayah. Begitu mudahnya kehidupan pria ini. Ketika yang lainnya di pagi hari sibuk bekerja, ia dengan tenang tidur dan baru bangun menjelang Zuhur. Sekarang di umur 36-nya, ia sering mengeluh kepada keluarganya, “Kenapa kalian tidak pernah mengingatkanku ketika masih muda untuk mempelajari sesuatu dengan benar dan sungguh-sungguh, untuk mempelajari sebuah keterampilan yang bermanfaat untuk sekarang ini. Kalau kalian mengingatkanku, mungkin sekarang aku bisa hidup di rumahku sendiri dengan seorang istri dan anak-anak,” keluhnya.

Kalimat inilah yang sering diulang-ulang oleh seorang pemuda yang menyesali dan menggunakan masa mudanya untuk berfoya-foya dan hanya menghambur-hamburkan uang orang tua.

Dari dua kisah ini sekarang Anda bisa menilai. Menurut Anda, yang mana di antara dua kisah pria ini yang masa mudanya lebih pahit dan lebih manis dan menurut Anda yang mana di antara dua pria ini yang menghambur-hamburkan masa mudanya?

Sebenarnya yang dimaksud dengan kebahagiaan masa muda itu apa? Kebanyakan orang yang telah mencapai usia paruh baya mengatakan, “Oh..seandainya aku kembali ke masa muda!”

Lalu semestinya yang dimaksud dengan kemudahan masa muda itu seperti apa? Sehingga kadang ada orang tua yang mengatakan, “Oh.. akan aku berikan apapun yang aku punya untuk mengembalikan masa mudaku!”

Janganlah lupa! Kadang sebuah kalimat cukup untuk membangunkan kita dari kelalaian yang panjang ini. Kalau kita tidak merasa kagum dengan kalimat-kalimat yang bisa membangunkan ini, maka di luar sana, kalimat-kalimat ini bisa membuat para pembacanya memikirkan berjuta rencana ke depan. Sekarang, apa pendapat Anda?

Disadur dari Majalah Muwafaqiyyat, No 327. 1395 (Tahun Persia) (Sutia/Yudhi)

About admin