Nikmatnya Puasa 17 Jam di Negeri Orang

Teriakan itu hanya terdengar di kampung kami di Indonesia, tapi tidak di sini, di negeri Persia, Iran. Jika di setiap masjid kampung, sejak pukul dua dini hari, penjaga masjid mulai bersuara dan anak-anak sudah ramai memainkan alat pukul mereka untuk membangunkan warga dengan panggilan sahur yang khas itu di kampung kami, namun di Iran, tepatnya di asrama kami, untuk membangunkan para mahasiswa, yang “diputar” adalah munajat Doa Iftitah pada pukul 03.00 pagi.

Di sisi lain, waktu berpuasa di Iran terhitung lebih lama dibandingkan di Indonesia, yakni kurang lebih 17 jam; tepatnya sejak pukul 04.07 pagi sampai dengan pukul 20.35 malam. Hampir setiap hari durasinya seperti itu. Dibutuhkan tenaga ekstra selain kesabaran untuk menjalaninya. Selain itu, untuk menjaga stamina, kami joke banyak memakan buah-buahan di tengah malam; seperti semangka, melon, dan semacamnya.

Memahami kondisi kami, di Sekolah Bahasa sekitar dua tahun lalu, Kepala Sekolah membuka kelas di malam hari bagi mahasiswa dari Indonesia dan Thailand, sehingga kami bisa tidur bakda salat Subuh sampai satu jam sebelum salat Zuhur.

Terhitung sudah tiga kali saya jalani puasa Ramadhan di Iran, ketiganya bertepatan dengan musim panas. Nekat keluar di siang hari, akan serasa berada di depan tungku masak dengan api membara. Apalagi dengan berhembusnya angin kencang, bukannya segar tapi malah makin terasa panas. Entah bagaimana halnya dengan para pekerja bangunan, jalan raya, dan pekerja lain yang berada di luar. Pasti mereka lebih berat bebannya daripada kami.

Menu berbuka di Iran pun, tak semewah dan sekomplit yang ada di Indonesia. Apalagi seperti di Bandung, yang menyediakan aneka makanan dan takjil, di pinggir-pinggir jalan. Di Iran, nyaris tak ada yang istimewa. Semuanya biasa saja, tak terkecuali di asrama. Menu berbuka kami hampir sama dengan menu makan malam sehari-hari, kecuali kadang ada tambahan tiga butir kurma untuk takjil.

Soal takjil, hampir sama kondisinya dengan apa yang ada di Indonesia. Setelah salat Maghrib, di masjid-masjid Iran joke disediakan menu takjil. Di masjid kampus pun, disediakan susu murni hangat dan kurma.

Sedikit berbeda dengan apa yang terjadi di makam Imam Ridha as. Konon tersedia meja hidangan berbuka begitu besar setiap harinya. Ingin sekali rasanya berada di sana, bergabung dengan ribuan peziarah lain menikmati hidangan buka puasa.

Saat lebaran, kami, mahasiswa Indonesia, biasanya saling berkunjung satu sama lain. Bagi yang tinggal di asrama, lebaran dilalui dengan mendatangi para comparison yang sudah menikah. Dalam silaturahmi inilah kami bisa menemukan hidangan dengan menu khas lebaran Indonesia, seperti ketupat dengan rendang dan opornya, termasuk bakso, juga aneka kue. Betapa bahagianya di hari itu, karena kami bisa bertemu makanan yang biasa kami santap bersama keluarga saat lebaran di Tanah Air.

Begitulah suasana puasa 17 jam di musim panas. Belum lagi kurangnya menu spesial Ramadhan, dan jauh dari keluarga. Tapi semua ini kami nikmati saja. Siapa tahu kami bisa lebih ikhlas berpuasa.

Seperti pernah disampaikan Ayatullah Jawadi Amuly, berpuasa hampir 17 jam disertai musim panas ini, kalau kita melihat secara lahiriahnya saja maka kita akan merasa tersiksa. Apalagi kalau kita berpuasa bukan untuk Allah SWT, sudah pasti kita akan merasa tersiksa. Namun, bila kita lihat dari sisi maknawinya, maka akan terasa berbeda. Artinya, setelah 11 bulan kita beri makan tubuh kita maka wajarlah jika hanya satu bulan ini giliran kita memberi makan jiwa kita. Pendek kata, asal kita berpuasa dengan ikhlas hanya untuk Allah, maka puasa 17 jam itu tak ada apa-apanya, bahkan akan terasa nikmat bagi kita. (Sutia/Yudhi)  

About admin