Muslim yang Tak Berkitab Suci

ذلِكَالْكِتابُلارَيْبَفيهِهُدىًلِلْمُتَّقين

Kitab (Al Qur’an) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertakwa. (QS. al-Baqarah:2)

Jawady Amuly menulis, kenapa dalam ayat di atas dikatakan bahwa “Tidak ada keraguan di dalamnya” karena keraguan itu ditimbulkan oleh bercampurnya antara kebenaran dan kebatilan. Namun kalau di sana hanya ada tentang kebenaran saja atau hanya ada salah satu di antaranya maka ia tidak akan mengandung keraguan di dalamnya. Keraguan tidak sesuai dengan Alquran, itu karena Alquran adalah kebenaran yang murni (بل هو الحق من ربک ).

Hal ini menjadi perenungan sendiri bagi penulis khususnya dan mungkin untuk kita semua umat Islam bahwa ketika kita meyakini bahwa tidak ada keraguan dalam Alquran maka segala kabar dan perintah yang ada di dalam Alquran harusnya menjadi sebuah pedoman kita untuk menjalani hidup. Kenapa? Karena fitrah manusia dan secara akal, manusia akan mengikuti segala sesuatu yang membuatnya yakin yaitu tidak menjadi ragu. Namun pada hakikatnya sekarang kita masih saja seakan-akan tidak mempercayai Alquran dan menjadi umat Muslim yang tak berkitab suci.

Apa buktinya bahwa kita masih tidak mempercayai Alquran yang tidak ada keraguan di dalamnya? Buktinya yaitu tatkala kita masih berakhlak buruk, berdosa, dan tidak menjalankan perintah-Nya. Padahal jelas-jelas setiap kitab suci, terlebih Alquran, menasihatkan kita untuk beramal baik, salah satunya dikarenakan adanya hari kiamat dan hari pembalasan.

Sekarang, salah satu yang penulis ingin kabarkan adalah tentang adanya kabar hari kiamat di dalam Alquran.

Bagaimanakah nanti apabila mereka Kami kumpulkan di hari (kiamat) yang tidak ada keraguan tentang adanya… (QS. al-Imran:25)

Kalau kita benar-benar meyakini datangnya hari kiamat maka kita akan lebih berhati-hati dalam menjalani hidup ini. Karena menurut Alquran seperti dalam surah ‘Abasa ayat 34-37 bahwa pada hari itu manusia lari dari sanak saudaranya, dari ibu dan bapaknya, dari istri dan anak-anaknya. Karena begitu menakutkannya hari itu saat mereka harus menanggung apa yang mereka amalkan di dunia fana ini, maka mereka berlari dan kabur dari satu sama lainnya. Padahal mereka dahulu mempunyai ikatan sangat dekat.

Namun sebaliknya bagi mereka yang benar-benar mempercayai Alquran yang tidak ada keraguan di dalamnya sehingga mereka mengamalkan apa-apa yang diperintahkan Allah SWT di dalamnya, maka mereka mendapatkan kabar baik dan keadaan yang baik ketika hari kiamat. Wajahnya berseri-seri dan berbahagia.

Kalau kita benar-benar yakin bahwa Alquran tidak ada keraguan di dalamnya, para kaum muda Muslim tidak akan pernah melakukan yang namanya pacaran. Karena jelas-jelas Alquran melarang hal-hal yang bisa mendekati zina dan kebanyakan dari pacaran yang kita saksikan sehari-hari adalah mendekati zina.

Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji dan suatu jalan yang buruk. (QS. al-Isra’:32)

Dan anak-anak Muslim tidak ada yang akan membantah kepada orang tuanya tatkala ia diperintahkan untuk sesuatu yang baik.

Tapi faktanya, masih banyak akhlak dan perilaku kita yang berseberangan dengan Alquran yang sudah menjamur di negeri tercinta Indonesia yang tak mungkin disampaikan kesemuanya di sini.

Sangat disayangkan budaya dan kebiasaan masyarakat Muslim yang ada di Indonesia ini sudah seperti kondisi umat yang tidak beragama Islam atau Muslim yang tak berkitabkan Alquran. Padahal harusnya menjadi sebuah kebanggan bagi kita bahwa negara yang pemeluk agama Islamnya terbanyak di dunia adalah negara kita, negara Indonesia.

Sebenarnya hal ini adalah PR bersama bagi para cendekiawan, para pemikir, para guru agama Islam Indonesia untuk bisa mengenalkan ajaran Alquran dengan tafsir yang diinginkan Allah SWT dan Rasul-Nya kepada para penduduk Muslim sehingga kita bisa sama-sama mengamalkan tentang apa yang dikabarkan Allah SWT melalui Rasulullah saw dalam kitab yang tidak ada keraguan di dalamnya yaitu Alquran. Jangan sampai kita seperti orang beragama Islam namun tidak mengimani kitabnya.

Terlepas dari semua yang telah disampaikan, yaitu tatkala kita masih berdosa, tatkala kita masih durhaka kepada orang tua, tetap saja kita harus kembali kepada Allah SWT dengan bertaubat.

Tak ada lagi seruan pale mesra dari Allah SWT kepada hamba-Nya yaitu “Wahai hamba-hambaku…”

Maka ketika kita melakukan dosa, bergegaslah kembali kepada-Nya, meminta ampun dan bertaubatlah. Sesungguhnya Ia adalah yang Maha Mengasihi kita yang mempunyai tubuh yang lemah ini.

“یا رب ارحم ضعف بدنی”

Wahai Tuhanku, kasihinilah kelemahan tubuhku… (Sutia/Yudhi)

Related posts:


Parasitisme Takfiri (Bagian Kedua): Belati di Leher al-QaedaParasitisme Takfiri (Bagian Kedua): Belati di Leher al-Qaeda


Syafinuddin Al-MandariImunitas Sosial dan Toleransi Rasional


RUMAH PRESIDEN DAN NASIB PENGUNGSI SAMPANGRumah Presiden dan Nasib Pengungsi Sampang


haji_indJagoan Haji

About admin