Mimpi Rekonsiliasi Israel-Palestina

Bicara rekonsiliasi tak lepas dari bicara tentang konflik. Dari istilahnya, rekonsiliasi memiliki makna: perbuatan memulihkan hubungan persahabatan pada keadaan semula; perbuatan menyelesaikan perbedaan. Kata kuncinya adalah “memulihkan hubungan” dan “menyelesaikan perbedaan”.

Di Tanah Air, makna rekonsiliasi tepat jika misalnya digunakan untuk penyelesaian konflik Sunni-Syiah di Sampang Madura. Karena pada mulanya mereka hidup dalam perbedaan mazhab dengan damai tanpa saling menyakiti. Kemudian dengan adanya pihak yang menyulut permusuhan antar keduanya, berujung pada pengusiran Muslim Syiah dari kampungnya. Maka upaya rekonsiliasi diharapkan dapat menyatukan kedua belah pihak yang dilanda kesalahpahaman itu, dan memulangkan kembali pengungsi ke kampung halaman mereka.

Lalu jika kita melihat konflik di tataran Dunia, misalnya antara Israel dan Palestina, apakah rekonsiliasi tepat digunakan untuk menyelesaikan perseturuan keduanya? Coba kita lihat dulu, apa bentuk relasi Israel dengan Palestina? Ternyata hubungannya tak lebih dari penjajah (Israel) dan terjajah (Palestina), sejak zionis Israel melakukan pendudukan dengan merampas tanah-tanah bangsa Palestina. Jika rekonsiliasi sebagai upaya pemulihan, ingin dipaksa diterapkan di sini, tentunya tak ada cara lain kecuali dengan cara Israel hengkang dari tanah Palestina dan mengembalikan tanah rampasannya kepada pemilik sahnya. Meski itupun takkan menciptakan kondisi pulih sepenuhnya, mengingat sudah terlalu banyak darah tertumpah akibat penjajahan tak berkesudahan ini.

Bicara tentang rekonsiliasi dan perdamaian di Palestina, ada sebuah film dokumenter berjudul “Encounter Point” (2006), berisi tentang “Titik-Temu” antara Israel dan Palestina melalui Forum Keluarga Korban (Israel-Palestina) yang dipelopori oleh aktivis anti kekerasan dari pihak Palestina dan Israel. Dalam forum itu, keluarga korban (dari Israel maupun Palestina) dipertemukan, untuk saling merasakan penderitaan yang sama.

Film dokumenter yang disutradarai Ronit Avni dan Julia Bacha ini kembali diputar di Griya Gus Dur Jakarta, Jumat (1/4/) dalam Forum Jumat Gusdurian sebagai bahan diskusi.

“Meskipun mereka berkonflik, mereka bisa bertemu,” kata Acun saat menjadi judge diskusi, memberikan sedikit gambaran tentang isi film tersebut.

Sebatas “Titik-Temu” antar keluarga korban bisa saja itu dilakukan. Akan tetapi menjadi sulit jika rekonsilisai itu menyentuh secara tellurian persoalan Israel dan Palestina.

Terlebih, apakah mungkin rekonsiliasi terjadi tanpa Israel menghentikan pendudukan di tanah Palestina?

Terlepas dari itu, film ini telah memberikan sudut pandang lain dari sisi keluarga korban (Israel-Palestina) yang sama-sama anti-kekerasan dan tak menghendaki berlanjutnya pembunuhan. Namun lagi-lagi kekerasan dan pembunuhan tidak akan berhenti selama penindasan dan penjajahan yang dilakukan zionis Israel masih terjadi.

Bagi setiap manusia dan bangsa yang mencintai keadilan, tentu akan mengerti bahwa keadilan bagi bangsa Palestina adalah ketika mereka mendapatkan kemerdekaannya; mendapatkan kembali tanah dan hak-hak mereka yang terampas.

Bagaimana mungkin pula kedamaian, rekonsiliasi akan terjadi jika salah satu pihak masih menindas pihak lain?

Kehidupan bangsa Israel dan Palestina bisa saja damai dan harmonis jika saja Israel tidak memaksakan diri membentuk sebuah negara di tanah Palestina. Mereka bisa hidup di belahan bumi mana saja, akan diterima di mana saja; jika memang mereka tidak berwatak agresor, dan menghendaki kehidupan yang harmonis di tengah bangsa-bangsa lain.

Tapi sayangnya, fakta berkata lain. Israel justru memilih Palestina sebagai tanah jajahannya. Sementara bangsa Palestina joke memiliki hak mempertahankan Tanah Air dan kemerdekaannya. Sebab itulah rekonsiliasi Israel-Palestina ibarat mimpi yang mustahil nyata terjadi. (Malik Yudhi)

About admin