Merancang Piramida Keyakinan; Sifat-sifat Allah [1]

Telah dijelaskan pada pelajaran yang lalu, bahwa sebagian besar argumen filosofis itu digunakan untuk menetapkan Zat yang dikenal sebagai Wujud Niscaya Ada (Wajib al-Wujud). Jika argumen itu ditambahkan dengan argumen-argumen yang lain, maka akan dapat ditetapkan sifat-sifat salbiyah (negatif) dan sifat-sifat tsubutiyah (positif) pada Wujud Niscaya Ada.

Melalui semua argumen itu kita mengenal Allah Swt dengan segala sifat-Nya yang khas yang membedakan Zat-Nya dari makhluk-makhlukNya. Jika tidak demikian, maka sekadar menetapkan bahwa Allah itu adalah Wujud Niscaya Ada tidaklah memadai untuk mengenal Allah sebagaimana semestinya. Karena, sangat mungkin sebagian orang mempunyai keyakinan bahwa materi atau energi, misalnya, merupakan misdak dari konsep Wujud Niscaya Ada.

Dari sinilah penting bagi kita, dari satu sisi, untuk menetapkan sifat-sifat salbiyah pada Allah, supaya kita dapat mengetahui bahwa Wujud Niscaya Ada (Wajib alWujud itu suci dari sifat-sifat yang khas pada makhluk-makhluk-Nya, yang tidak mungkin diterapkan pada Zat-Nya.

Dari sisi lain, kita juga harus menctapkan sifat-sifat tsubutiyah pada Allah, agar menjadi jelas bahwa Dia-lah yang layak untuk disembah dan agar terbuka peluang untuk menetapkan semua keyakinan lainnya seperti kenabian, kebangkitan dan masalah-masalah rinciannya.

Melalui argumen yang lalu, kita telah sampai pada kesimpulan bahwa Wujud Niscaya Ada itu tidak membutuhkan sebab. Bahkan, Dia-lah Sebab bagi semua realitas yang mungkin. Jadi, kita telah menetapkan dua sifat bagi Wujud Niscaya Ada.

Pertama, bahwa Wujud Niscaya Ada tidak butuh kepada selain-Nya, karena kalau Dia butuh kepada wujud yang
lain sekecil apa pun, maka wujud yang lain itu merupakan sebab bagi-Nya. Dan, telah kita ketahui makna sebab dalam fllsafat, yaitu bahwa wujud sesuatu itu dibutuhkan untuk keberadaan sesuatu yang lain.

Kedua, bahwa semua yang mungkin (mumkin al-wujud) adalah akibat dan butuh kepada sebab.Jadi, Wujud Niscaya Ada merupakan Sebab Utama bagi kemunculan dan keberadaan wujud-wujud mungkin tersebut.

Berdasarkan dua kesimpulan ini, kami berusaha membahas konsekuensi masing-masing yang berhubungan dengan kedua sifat tersebut. Kita juga akan membuktikan adanya sifat-sifat negatif dan sifat-sifat positif bagi Wujud Niscaya Ada. Tentunya, untuk menetapkan tiap-tiap sifat telah dibawakan argumen-argumen yang beragam yang terdapat dalam kitab-kitab filsafat dan teologi. Akan tetapi, demi memudahkan pemahaman secara merata dan menjaga keutuhan antara satu pelajaran dengan pelajaran yang lain, kita akan memilih argumen-argumen yang ada kaitannya dengan argumen yang telah lalu.

Azali dan Abadinya Allah Swt

Apabila realitas itu akibat dan membutuhkan realitas yang lain, maka wujudnya itu bergantung kepada wujud selainnya. Dan apabila wujudnya itu tiada, tentu dia tidak lagi mewujud. Artinya, apabila wujud itu sirna pada saat tertentu, hal ini menunjukkan ketergantungan (faqr)-nya, butuh kepada yang lain, dan menunjukkan dirinya sebagai wujud kontingen (mumkin alwujud). Mengingat bahwa Wujud Niscaya Ada itu ada dengan sendirinya dan tidak membutuhkan kepada yang selainnya, Dia adalah Abadiy al-Wujud (wujud-Nya abadi dan azali)

Dari uraian di atas, kita dapat menetapkan dua sifat pada Wujud Niscaya Ada.

About admin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*