no-sunni-syiah-53aa3f4499e6b

Letak Perbedaan Pendapat Sunni-Syiah

no-sunni-syiah-53aa3f4499e6bBerikut ini beberapa letak perbedaan antara kelompok Sunni-Syiah;

Mushaf Fatimah. Letak perbedaan pendapat ada pada klaim Mushaf Fatimah.

Dr Al-`Awwa menekankan bahwa ada perbedaan antara mazhab dan partai. Mazhab mengacu pada keputusan hukum, seperti wajib, sunnah, mubah, halal, dan sebagainya. Sedangkan partai mengacu pada sekelompok Muslim yang mendukung kelompok dan pemikiran tertentu, membedakan diri dari umat Islam lainnya yang berkaitan dengan masalah iman.

Selain itu, ia menekankan pentingnya dialog dengan Syiah, yakni kelompok Imamiyah Ithna `Ashriyyah (Ja` fariyyah), di mana Syiah ini kebanyakan berada di Iran, Irak, Lebanon, Suriah, dan semua negara-negara Teluk. Saat ini, pandangan politik dan jihad para pengikut kelompok ini memiliki dampak besar bagi Islam.

Dr Al-`Awwa juga menjelaskan bahwa ada alasan umum antara Sunni dan Syiah yang mengharuskan mereka menjunjung persatuan, selain karena mereka memiliki keimanan yang sama terhadap Allah sebagai Tuhan Yang Maha Esa dan Muhammad sebagai Rasul-Nya. Juga,  mereka sama-sama meyakini akan perintah umum Islam lainnya, seperti shalat, puasa, zakat, dan haji.

Selain itu, baik Sunni maupun Syiah sepenuhnya menerima semua hal yang difirmankan Allah Swt. Tidak ada Muslim Sunni atau Syiah yang bertentangan mengenai semua fakta yang terkandung dalam Al Qur’an, baik dari sampul salinan hingga isi keseluruhan Qur’an, dari Surat Al-Fatihah hingga Surat An-Nas. Kedua kelompok besar Islam ini meyakini bahwa  firman Allah Swt. ini diwahyukan  kepada Nabi Muhammad Saw.

Klaim bahwa Syiah telah menyelewengkan Al Qur’an didasarkan pada buku Fasl Al-Khitab Fi Ithbat Tahrif Kitab Rabb Al-Arbab (Final Word on the Proof of Perversion of the Book of the Lord of Lords) karya An -Nuri At-Tabrasi. Hal ini juga didasarkan pada informasi palsu yang disebutkan dalam beberapa buku Syiah tentang sebuah buku berjudul Mushaf Fatimah (Fatimah Copy Al-Qur’an). Namun, klaim ini, bahkan disangkal oleh ulama Sunni dan Syiah.

Misalnya,  penolakan terhadap klaim itu terdapat dalam kitab Al-Mirza Borujerdi di mana ia berusaha menjelaskan kesalahpahaman yang dikeluarkan oleh pendapat An-Nuri. Buku Al-Borujerdi ini dipuji oleh Hibatullah Ash-Shihristani (seorang sarjana Syiah) di salah satu suratnya kepada penulis. Dalam surat tersebut, Ash-Shihristani menggambarkan keadaan kota Samarra’ menyusul terbitnya buku An-Nuri. Dia berkata, “Aku melihatnya [Samarra’] seperti surga bagi para pendatang baru. An-Nuri, melalui bukunya Final Word. Setiap kali kami mulai sesi agama (hawzah), ada banyak yang menentang isi buku, penulis, dan penerbitnya.”

“Jika hal-hal yang diutarakan penulis “Fasl Al-khitab” tidak menimbulkan kesalahpahaman, maka apa yang ia tulis akan ada nilainya, baik dalam pengetahuan maupun praktek. Sebaliknya, [buku] itu hanya rekaman narasi lemah.”

Selain Hibatullah Ash-Shihristani, ada juga yang membantah pendapat An-Nuri, yakni Sheikh Al-Mufid dan Sheikh Al-Khu’i.

Adapun yang disebut Mushaf Fatimah, Imam Ja’far As-Shadiq berkata, “Apa pun yang termasuk di dalamnya adalah bukan dari Al Qur’an. Sebaliknya, itu adalah sebuah interpretasi dari apa yang terungkap melalui Jibril [Malaikat Jibril] dan disampaikan oleh Nabi Saw.”

Selain itu, Syiah menunjukkan bahwa mushaf, yang umumnya berarti salinan Al Qur’an, juga dapat berarti isi yang terletak di antara dua sampul buku apa pun. Selain itu, mushaf merupakan sebuah kata yang baru diciptakan—yang tidak digunakan sebagai nama untuk Al Qur’an di masa lalu.

Oleh karena itu, dengan merujuk syiah menyeleweng dengan berdasar pada Mushaf Fatimah, maka Syiah tidak berarti meyakini bahwa isinya adalah Firman Allah. Kesimpulan ini kemudian diperkuat oleh fakta bahwa Syiah tidak terlihat memegang salinan Al Qur’an selain Al Qur’an itu sendiri. Hal ini terlihat dari penelusuran yang menemukan bahwa Mushaf Fatimah tidak ada di perpustakaan buku-buku agama Syiah. Seperti telah disebutkan, semua umat Islam, Sunni dan Syiah, percaya pada Al Qur’an yang sama.

Imamah Ali. Perbedaan antara Sunni dan Syiah termasuk kontroversi atas keyakinan Syiah bahwa imamah adalah posisi Ilahi. Yakni menempatkan kepemimpinan kepada orang yang ditunjuk langsung Allah atau Rasul-Nya. Mereka percaya bahwa Nabi telah menunjuk Ali bin Abi Thalib dan mengatakan bahwa imamah harus diberikan kepada Ali sampai ke imam kedua belas, Muhammad bin Al-Hassan Al-`Askari (Imam Mahdi menurut kepercayaan Syi’ah).

Sunni, di sisi lain, mengabaikan keyakinan tersebut dan mengatakan bahwa tidak ada teks ilahi mengenai imamah. Mereka menganggap imamah masalah Fiqih (hukum Islam), bukan masalah yang berkaitan dengan iman.

Kelompok Sunni juga percaya bahwa Imam Mahdi akan datang sebelum Hari Akhir, namun mereka percaya bahwa tujuan kedatangan beliau untuk menghidupkan kembali agama.

Ayatullah Shariatmadari berpendapat bahwa orang memiliki hak untuk mengatur diri mereka sendiri dan memilih wakil-wakil mereka melalui pemungutan suara. Dia juga percaya bahwa hal itu tidak dibolehkan untuk satu orang atau kelas tertentu secara eksklusif dalam kepemerintahan. Pandangannya secara eksplisit menentang teori otoritas Faqeeh (ulama fiqh) yang ditegakkan oleh Ayatullah Khumeini. Ayatullah Muhammad Mahdi Shams-ud-Din dan Ayatullah Muhammad Husain Muntazeri juga di antara mereka yang memiliki pendapat berbeda tentang masalah ini.

Dr Al-`Awwa percaya bahwa itu adalah tugas ulama Sunni (khususnya mereka yang tertarik mendalami fiqh politik) untuk mencari tahu lebih jauh tentang pendapat mereka untuk selanjutnya diadopsi oleh ulama Syiah Imamiyah dari Ithna`Ashriyyah. Para ulama Sunni harus bekerja sama untuk mencari kesesuaian mengenai masalah ini, yang telah memicu pertikaian pertama di antara umat Islam setelah kematian Nabi.

Imam Mahdi yang ditunggu. Bagian dari perselisihan antara Sunni dan Syiah adalah karena keyakinan Syiah yang menunggu kedatangan Imam Mahdi atau Imam Al-`Askari (imam Syiah dua belas). Kelompok Syiah percaya bahwa imam Mahdi akan kembali sebelum Hari Akhir dan menyebarkan keadilan di seluruh dunia setelah terjadi ketidakadilan.

Kaum Sunni juga percaya bahwa Mahdi akan datang sebelum Hari Akhir, namun mereka percaya bahwa tujuan kedatangan beliau untuk menghidupkan kembali agama (Islam). Juga, sementara Sunni percaya bahwa semua orang bertanggung jawab terhadap dosa kecuali Nabi, Syiah percaya bahwa Mahdi sempurna.

Tuqyah atau Taqiyyah. Titik lain terjadinya perbedaan pendapat dalam hal keyakinan Syiah Imamiyah adalah Tuqyah. Taqiyyah umumnya berarti bahwa seorang Muslim menyembunyikan keyakinan atau keimanan karena dorongan keterpaksaan guna menyelamatkan dan menjaga jiwa, kehormatan maupun hartanya di tengah-tengah kejahatan yang dilakukan orang kafir. Pendapat ini didasarkan pada ayat berikut: 

“Janganlah orang-orang mukmin mengambil orang-orang kafir menjadi wali dengan meninggalkan orang-orang mukmin. Barangsiapa berbuat demikian, niscaya lepaslah ia dari pertolongan Allah kecuali karena (siasat) memelihara diri dari sesuatu yang ditakuti dari mereka. Dan Allah memperingatkan kamu terhadap diri (siksa)-Nya. Dan hanya kepada Allah kembali (mu). (QS. AI Imran :28)

Penghinaan terhadap sahabat. Penghinaan kaum Syiah terhadap sahabat Nabi merupakan titik perselisihan serius antara Sunni dan Syiah. Sebenarnya, sulit untuk mendamaikan mereka yang mengatakan “Abu Bakr (ra.)” dengan mereka yang mengatakan “Abu Bakr (semoga Allah mengutuknya)!”

Kaum Sunni tidak pernah menghina apapun; mereka mengutuk siapa pun yang melakukannya. Namun, fenomena penghinaan Syiah kepada sahabat berkurang seiring berjalannya waktu. Sheikh Yusuf Al-Qaradawi, presiden Uni Internasional Cendekiawan Muslim, menegaskan bahwa kecenderungan menahan diri dari memaki-maki para sahabat mulai menyebar di Iran. Selain itu, pada hari-hari awal Republik Islam Iran, Ayatullah Imam Khumeini mengeluarkan fatwa yang menyatakan bahwa siapa pun yang mengutuk para sahabat akan dianggap kafir.

Selain itu, Grand Mufti Mesir Dr Ali Jum’ah menegaskan bahwa edisi baru dari buku 110 jilid Bihar Al-Anwar (Seas of Lights) yang dicetak oleh Al-Majlisi di Beirut, Lebanon, Volume 29 sampai 33, termasuk pelanggaran kepada para sahabat.

Ini semua tentang politik. Sejarah membuktikan bahwa politik adalah alasan di balik perpecahan pertama di kalangan umat Islam. Ironisnya, hal yang sama berlaku di zaman modern ini yang membesar-besarkan perbedaan pendapat antara Sunni dan Syiah. Tanda-tanda pertama dari perpecahan muncul pada tahun 1979 setelah pecahnya revolusi Iran. Sementara revolusi ini mendapat dukungan dari banyak orang di seluruh Dunia Muslim, hal itu menimbulkan kekhawatiran dari beberapa penguasa.

Perang Iran-Irak (1980-1988) membuat situasi lebih buruk. Meskipun itu bukan perang Sunni-Syiah, namun perkelahian itu ditafsirkan banyak pihak mengarah pada dua kelompokk besar Muslim itu. Akibatnya, orang-orang Arab terpecah menjadi dua kelompok: satu mendukung orang-orang Arab melawan Iran dan yang lainnya melihat pertarungan sebagai perang agresi terhadap negara Islam yang menang atas Shah.

Setelah itu, Hizbullah di Lebanon muncul sebagai partai Syiah dan memimpin perlawanan Islam, yang memaksa Zionis dari Lebanon selatan pada tahun 2000. Pada akhir Juli 2006 Perang di Lebanon, Hizbullah mendapatkan popularitas lebih di Dunia Muslim. Para penguasa Arab, bagaimanapun, menunjukkan reaksi yang berbeda; beberapa penguasa Arab digambarkan sebagai petualangan perang yang salah perhitungan. Juga, manajemen yang efisien Iran terkait sengketa dan program nuklirnya memperkuat citra yang lebih positif dari Syiah.

Kesimpulannya, semua peristiwa ini memerlukan persatuan umat Islam, sehingga mereka akan mampu melindungi kepentingan seluruh umat Islam. Dialog dan pemulihan hubungan harus ada antara masyarakat itu sendiri, bukan mazhab, karena mazhab merupakan posisi hukum dan ideologi mapan yang tidak dapat diubah. Oleh karena itu, kerjasama dan saling mengenal antara masyarakat yang berbeda mahzab atau apa yang sering kita sebut dialog dan pemulihan hubungan—yang bertujuan untuk mencapai kesatuan dan kekuasaan di tingkat sosial, budaya, ekonomi dan politik sangat diperlukan kedua kelompok.  Wallahu A’lam Bishowab. [LS]

 

Sumber: OnIslam

About admin