Lailatul Qadr, Malam Keinsyafan, Pengakuan dan Permohonan Ampun atas Segala Dosa

26 June, 2016

Leave a comment

“Dalam kesempatan kali ini, saya ingin menjelaskan tentang lima dasar kehidupan manusia di dunia ini. Lima dasar ini diambil dari Surah al-Isra dari ayat 11 sampai dengan 15. Mereka itu ialah ikhtiar dan takdir, hisab, hidayah, tanggung jawab, dan peringatan,” jelas Ayatullah Rafii’ dalam peringatan malam ke-19 Ramadhan atau Malam Qadr, di Shabestan Imam Khomeini, Haram Sayidah Maksumah, Qum, Jumat (24/7).

“Yang pertama adalah ikhtiar dan takdir. Perlu diketahui bahwa Allah SWT tidak menciptakan manusia secara sembarangan. Namun sesuai dengan ketetapan dan ketetapan yang telah terukur, selain itu takdir manusia ada di tangan manusia sendiri,” jelasnya.

Adapun tentang hisab, beliau menjelaskan bahwa segala yang manusia lakukan di dunia ini, dokumennya bisa dilihat nanti di hari kiamat.

“Nanti di hari kiamat, kita tidak bisa mengingkari dokumen-dokumen amal kita dan kita akan melihat rekaman-rekaman setiap apa yang kita lakukan, serta mulut-mulut kita akan tertutup rapat.”

“Selanjutnya adalah hidayah. Barangsiapa yang mendapatkan hidayah di dunia ini, maka sebenarnya mereka telah menguntungkan dirinya sendiri, namun bagi siapa saja yang tersesat maka dialah yang merugi. Seperti Abu Jahal dan Umar bin Sa’ad yang telah kehilangan dan tak mendapatkan hidayah, sebenarnya mereka sendiri yang merugi,” ungkapnya.

Lebih lanjut, beliau menjelaskan dua poin terakhir yaitu tanggung jawab dan peringatan.

“Dua dasar yang lain adalah tanggung jawab dan peringatan. Adapun tanggung jawab bermakna bahwa apa yang kita lakukan, maka diri kita sendirilah yang akan menanggungnya dan tentang peringatan bahwa apabila ada seseorang yang belum mengenal para nabi Allah karena terbatasnya sarana informasi maka ketika mereka meninggal dunia maka Allah swt akan mengampuninya dan memasukannya ke dalam surga. Inilah lima dasar kehidupan kita di dunia ini yang apabila diketahui maka kita akan selamat sampai tujuan.”

“Malam Qadr adalah malam muhasabah. Malam ketika kita menghisab diri kita, ada di manakah kita? Inilah halaman kita mengenal dan mengakui dosa-dosa serta aib-aib kita kepada Allah SWT,” pungkasnya. (Sutia/ Yudhi)

Related posts:


Agama dan Pancasila: Menakar Ulang Tafsir dan Makna Pancasila Sebagai Ideologi NasionalMimpi Basah Wahabi Mengganti Pancasila


Teladan Damai MUI YogyakartaTeladan Damai MUI Yogyakarta


ABI Press_Peringatan Maulid Nabi oleh Paguyuban Sabilulungan di BandungIsra’ Mi’raj ICC: Umat Agung Manifestasi Manusia Agung


Komunitas SaliharaIslam dan Spirit Kapitalisme

About admin