Khotbah Imam Ali saat Pembaiatan Kepadanya di Makkah

Tanggung jawab atas apa yang saya katakan terjamin, dan saya bertanggung jawab untuk itu. Orang yang telah melihat dengan jelas hukuman-hukuman percontohan (yang diberikan Allah kepada kaum-kaum) di masa lalu, dicegah oleh takwa untuk jatuh ke dalam keragu-raguan. Hendaklah Anda ketahui bahwa kesukaran-kesukaran yang menimpa Anda sama dengan yang terjadi ketika Nabi Saw mula-mula diutus.

Demi Allah yang mengutus Nabi dengan iman dan kebenaran, Anda akan dijungkirkan dengan keras, digoncang dengan pahitnya seperti dalam menampi, dan diaduk sepenuhnya seperti dengan mengayok dalam belanga, sehingga orang-orang Anda yang rendah menjadi tinggi dan yang tinggi menjadi rendah, yang di belakang akan sampai ke depan dan yang di depan akan menjadi terbelakang. Demi Allah, saya tidak menyembunyikan sepatah kata joke dan tidak mengucapkan suatu kebohongan, dan saya telah diberitahu tentang peristiwa ini dan tentang waktu ini.

Berhati-hatilah, dosa adalah seperti kuda binal yang di punggungnya penunggangnya telah ditempatkan dan kekangnya telah dilepaskan, sehingga mereka akan meloncat dengan tunggangannya ke dalam neraka, sementara takwa adalah seperti kuda-kuda yang terlatih yang di punggungnya para penunggang ditempatkan dengan kendali di tangannya sehingga mereka akan membawa penunggangnya ke surga. Ada kebenaran dan kebatilan, dan ada para pengikut untuk masing-masingnya. Apabila kebatilan yang mendominasi, hal itu telah terjadi di masa lalu dan apabila kebenaran menurun, itu joke telah terjadi. Kadang terjadi bahwa sesuatu yang berlamban-lamban di belakang menjadi terkemuka, “Dan tiada yang memahaminya kecuali orang-orang yang berilmu. ” (QS. 29:43)

Orang yang memandang surga dan neraka, tidak mempunyai tujuan lain. Orang yang berusaha dan bertindak dengan cepat, berhasil, sedang pencari yang lamban dapat pula menaruh harapan; dan orang yang kekurangan amal menghadapi kehancuran di neraka. Di kanan dan kiri ada jalan-jalan yang menyesatkan. Hanya jalan tengah yang merupakan jalan yang benar. Pada jalan ini ada Kitab Abadi dan sunah Nabi Saw. Darinya sunah tersebar dan kepadanyalah tempat kembali.

Orang yang mengaku (sebaliknya) runtuh, dan orang yang mengada-adakan kebatilan akan kecewa. Orang yang melawan kebenaran dengan wajahnya akan beroleh kehancuran.[i] Cukuplah kejahilan bagi orang yang tidak mengenal dirinya. Orang yang berakar kuat dalam takwa tidak binasa,[ii] dan perkebunan suatu kaum yang berdasarkan takwa tidak akan kehabisan air. Sembunyikanlah diri Anda dalam rumah Anda dan perbaikilah diri Anda. Taubat ada di belakang Anda. Orang hanya harus memuji Allah dan menyalahkan dirinya sendiri.

Baca juga Khotbah Imam Ali tentang Penciptaan Alam, Malaikat dan Nabi Adam

——————————————————————————–

Sayid Radhi mencatat: Dalam pembicaraan kecil ini, ada lebih banyak keindahan daripada yang dapat dinilai, dan besarnya ketakjuban yang ditimbulkan olehnya lebih daripada penilaian yang diberikan kepadanya. Walaupun telah saya nyatakan, ini mengandung banyak aspek kefasihan tak dapat diungkapkan, tak ada orang yang menjangkau kedalamannya, dan tak ada orang yang dapat memahami apa yang akan saya katakan, kecuali apabila ia telah mencapai seni ini dan mengenal detail-detailnya. “Dan tiada yang memahaminya kecuali orang-orang yang berilmu.” (QS. 29:43)

[i] Dalam beberapa versi, kata-kata man abda shafhatahu lil haqqi halaku” (barangsiapa menentang hak dengan wajahnya maka celakalah ia) disusul kata-kata: “inda jahalatin-nas.” Dalam hal ini arti kalimat itu menjadi “orang tegak yang menghadapi kebenaran, mati dalam penilaian orang yang jahil”.
[ii] Takwa adalah penamaan bagi hati dan jiwa yang dipengaruhi kebenaran Ilahi, sehingga jiwanya yang penuh takwa kepada Allah menambah ibadahnya kepada-Nya. Tidak mungkin hati akan penuh dengan takwa kepada Allah tanpa diterjemahkan ke dalam peribadatan dan amal saleh. Dan karena peribadatan dan penyerahan din memperbaiki hati dan membersihkan jiwa maka kebersihan hati bertambah dengan meningkatnya peribadatan. Itulah sebabnya maka takwa, dalam Alquran, kadang-kadang berarti takut, kadang-kadang berarti kebersihan hati dan jiwa. Dengan demikian firman Allah: “Wa iyyaya fattagun” (dan hanya kepadaKu lah kamu harus bertakwa, QS. 2:41), takwa berarti takut, sedang dalam ayat: “ittaqullah haqqa tugatihi” (Bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya) (QS. 3:102), takwa berarti peribadatan dan ketaatan, dan dalam ayat Wa yakhsyalloha wa yattaghi fa ulaaa’ika humul-fa’izun (Dan barang-siapa yang taal kepada Allah dan bertakwa kepuda-Nya, maka mereka itu adalah orang-orang yang mendapat kemenangan) (QS. 24:52), takwa berarti kejernihan jiwa dan kebersihan hati.

Dalam hadis-hadis, takwa dibagi atas tiga tingkat. Tingkat pertama, ialah bahwa seseorang harus menurut perintah-perintah dan menghindari larangan. Tingkat kedua adalah menuruti hal-hal yang sunah (dianjurkan) dan menghindari hal-hal yang makruh atau tidak disukai. Tingkat ketiga, seseorang harus juga menghindari hal-hal yang dibolehkan bila ragu. Tingkat pertama adalah untuk orang biasa, yang kedua bagi orang yang mulia dan yang ketiga bagi orang yang berkemuliaan tinggi.

Tidak ada dosa bagi orang yang beriman dan mengerjakan amalan yang saleh karena memakan makanan vang mereka makan dahulu, apabila mereka bertakwa serta beriman dan mengerjakan amalan-amalan yang saleh, kemudian mereka tetap bertakwa dan beriman, kemudian mereka (tetap juga) bertakwa dan berbuat kebajikan. Dan Allah menyukai orang-orang yang berbuak kebajikan. (QS. 5:93)

Amirul Mukminin mengatakan bahwa hanya amal yang didasarkan pada takwa yang dapal bcrtahan dan bahwa amal akan berkembang serta berbuah bila diairi takwa, karena ibadat hanya bermakna bila dilakukan dengan penyerahan diri. Allah berfirman:

“Apakah orang-orang yung mendirikan mesjidnya di atas dasar takwa kepada Allah, dan keridaan(-Nya) itu yang baik, ataukah orang-orang yung mendirikan bangunannva di tepi jurang yang runtuh, lalu bangunannya itu jatuh bersama-sama dengan dia ke dalam neraka jahanam?” (QS. 9:109)

Dengan kata lain, tiap kepercayaan yang tidak berdasarkan pengetahuan dan keyakinan adalah seperti bangunan yang didirikan tanpa fondasi, tak akan kokoh, sedang amal tanpa takwa, adalah seperti tanaman yang layu karena kekurangan air.

Nahjul Balaghah, Khotbah ke-16

About admin