imam_khomeini_ra_anniversary_by_islamicwallpers

Kehidupan Sehari-Hari Imam Khomeini ra

imam_khomeini_ra_anniversary_by_islamicwallpersBagaimana dengan Pertemuan-Pertemuan yang Dilakukan Imam Khomeini?

Beliau mengatakan:

“Dahulukan mereka yang punya urusan pokok!”

Dalam pertemuan umum, kami berusaha lebih banyak bertemu dengan keluarga syuhada. Tidak ada seorangpun yang menjalankan kewajibannya untuk Islam, revolusi dan negara seperti yang dilakukan oleh syudaha yang mulia. Kita semua harus menjadi pengabdi wasiat dan pemikiran syuhada, para mantan tawanan dan keluarga mereka. Akhir-akhir ini saya mendapatkan tulisan Imam Khomeini yang menyebutkan:

“Saya menderita sakit pernafasan. Untuk sementara jangan selenggarakan pertemuan bersama saya. Tapi jangan sampai mengabaikan pertemuan dengan keluarga syuhada.”

Setiap kali Imam Khomeini bertemu dengan keluarga syuhada dan para mantan tawanan, beliau benar-benar gembira dan menegaskan kepada para pejabat untuk memperhatikan kondisi mereka.

Selain itu kami berusaha agar pertemuan ini mencakup banyak kalangan lainnya. Seperti Sepah Gorgan atau Jihad Delijan atau misalnya Golpaigan. Terkadang ketika kami menanyakan kepada Imam Khomeini kelompok mana yang bisa datang menemui beliau, Imam Khomeini menjawab:

“Apa hubungannya antara pos dan telegraf Golpaigan dengan Sepah Delijan?”

Kami mengatakan, “Lalu bagaimana dengan telpon-telpon yang ada? Anda, alhamdulillah akan menyampaikan masalah-masalah yang berguna bagi semuanya.” Misalnya masalah yang paling pedas yang disampaikan Imam Khomeini terkait Amerika, ketika para tukang roti Qom melakukan pertemuan bersama Imam Khomeini. Beliau berkata:

“Carter harus tahu bahwa dia tidak akan menjadi presiden lagi.”

Di sini saya ingatkan bahwa Imam Khomeini tidak pernah menyembunyikan sesuatu dari masyarakat. Ketika Carter mengirim sebuah pesan untuk beliau, kepada saya beliau berkata:

“Ini harus dipublikasikan. Karena kami tidak menyembunyikan sesuatu dari masyarakat. Yang kedua, kemungkinan besar mereka sendiri yang akan memplubikasikannya dan memikirkan hal-hal tertentu dan masyarakat juga harus berpikir bahwa ada hal-hal tertentu di balik layar. Dan kita juga harus menyampaikan apa yang sedang terjadi kepada masyarakat dan mereka sendiri yang akan mengambil keputusan.”

Dalam semua wawancaranya Imam Khomeini berkata:

“Kita akan melakukan hubungan dengan Amerika selama kita tahu bahwa hubungan ini bermanfaat bagi masyarakat.”

Apakah Imam Khomeini menyukai bidang tertentu dalam olahraga?

Imam Khomeini menyukai olahraga. Tapi beliau tidak mengutamakan bidang tertentu. Boleh dikatakan bahwa beliau lebih menyukai gulat dan olahraga kuno Iran. Tapi jimnastik lebih menarik perhatian beliau daripada olahraga yang lainnya. Di masa kecilnya Imam Khomeini melakukan latihan lompat tinggi. Kedua tangan dan salah satu kakinya pernah patah karena olahraga ini. Di kepala beliau ada lebih dari sepuluh bekas luka dan dan beberapa di bagian dahinya.

Bagaimana dengan kekuatan badan Imam Khomeini?

Bagus.

Apakah kekuatan badan Imam Khomeini karena olahraga ataukah memang secara alami dan anugerah ilahi demikian?

Secara alami demikian

Apakah Imam Khomeini mengenal teknik renang?

Beliau tidak mengenal teknik renang tapi dalam batas tertentu beliau mengenal renang

Apakah di masa mudanya Imam Khomeini pergi ke medan olahraga untuk menonton pertandingan olahraga?

Bila maksud dari medan olahraga adalah stadion, tidak. Beliau tidak pernah pergi ke stadion. Tapi bila maksudnya adalah segala tempat olahraga, Imam khomeini pernah pergi ke sebagian tempat untuk menonton pertandingan gulat. Tentu saja itupun kadang-kadang. Ada juga kenangan manis terkait gulat Haj Agha Kamal Kamali, jagoan Qom dan jagoan Rusia yang datang ke Qom untuk pertandingan dengan Haj Agha Kamal Kamali. Imam Khomeini menceritakan, Jagoan Rusia lebih kuat tapi Haj Agha Kamal membawanya mendekati sebuah batu dan mendorongnya. Jagoan Rusia juga tidak tahu kalau ada batu. Kakinya kena batu dan jatuh ke belakang. Sepontan warga Qom mengumumkannya sebagai pemenang ronde dan membawanya ke makam Sayidah Fathimah Ma’sumah as.

Apakah Imam Khomeini juga menonton acara olahraga yang ditayangkan di tv?

Beliau menonton tapi biasa-biasa saja. Ketika saya mendekati beliau dan kalau salah satu dari dua chanel tersebut menayangkan acara olahraga, sementara Imam Khomeini sedang menonton chanel lainnya, beliau langsung mengalihkan ke chanel yang menayangkan olahraga dan berkata:

“Ini juga karena kamu, duduk dan tontonlah!”

Apakah Anda punya kenangan olahraga lainnya dari Imam Khomeini?

Imam sampai akhir-akhir ini setiap hari olahraga jalan kaki selama satu jam setengah dan melakukan gerakan olahraga secara teratur sebagaimana yang dianjurkan oleh dokter untuk terapi sakit punggung dan sakit kaki.

Imam Khomeini berkata:

“Bila pada masa itu pertandingan balapan naik kuda hukumnya sunnah dan kaum Muslimin harus berlatih, itu karena untuk membela diri. Sekarang berperang tidak lagi menggunakan kuda, perangnya memakai phantom dan perang ini juga hukumnya sunna. Karena tujuan utama dari pertandingan ini adalah melakukan perlawanan dan membela harga diri, bangsa dan Islam.”

Menurut Anda, yang manakah dari perilaku istimewa dan khas Imam Khomeini di rumah yang bisa dijadikan sebagai teladan?

Salah satunya adalah kejujuran beliau. Apa yang dikatakannya di luar, di rumah sama sekali tidak akan dikatakan lain. Selain itu, ketika di dalam rumah, maka hal-hal yang resmi menjadi tidak resmi. Beliau menyampaikan dengan jujur apa yang beliau pahami kepada anak-anaknya dan ibu saya. Misalnya, berkali-kali saya masuk ruangan dan Imam Khomeini tidak tahu. Saya melihat beliau duduk menekuk lutut kemudian Ali anak saya naik ke atas pundaknya. Sayang ingin sekali menyotingnya atau memotret pemandang itu, tapi saya tahu Imam Khomeini tidak bakal mengizinkannya.

Keakraban dan kejujuran Imam Khomeini dengan anak-anak dan ibu saya benar-benar ajaib. Ibu kami selama 15 tahun ini memainkan peran utama. Misalnya, beliau tidak pernah mengeluh kepada Imam Khomeini tentang bagaimana kehidupan kami. Dalam peristiwa 15 Khordad, seluruh wanita daerah tempat tinggal kami datang ke rumah kami dan sebagian pingsan, ibu kami memberikan minuman sirup kepada mereka.

Malam ketika Imam Khomeini ditangkap dan diasingkan ke Turki, saya masuk ke dalam kamar. Saya bertanya kepada ibu, “Apa yang terjadi? Ada maling? Waktu itu saya berusia 15 tahun. Ibu menjawab, “Tidak, tidak ada apa-apa. Seperti sebelumnya mereka menangkap ayahmu! Kalau kamu mau melihat beliau, keluarlah lewat pintu itu!”

Kepada para pasukan Imam Khomeini berkata:

“Apa-apaan ini? Mengapa kalian bikin ribut? Tidakkah kalian malu? Salah satu dari kalian bisa datang dan mengetuk pintu dan mengatakan, Khomeini kemarilah! Nah, saya juga akan datang.”

Setelah lama Imam Khomeini menceritakan kepada saya:

“Di dalam mobil ketika pergi dan sampai pada sumur minyak, saya berkata, “Semua kesengsaraan kita ini karena minyak ini. Mengapa kalian bersikap seperti ini? Mulai dari situ sampai Tehran saya berbicara dengan mereka dan salah satu dari mereka yang duduk dekat saya menangis sampai Tehran.” 

Ketika saya sampai di gang, saya melihat Imam Khomeini dimasukkan ke dalam mobil dan dibawa. Saya mengambil batu dan menghantamkannya. Para pasukan kembali lagi untuk menangkap saya. Saya melarikan dan mengulanginya lagi. Mulai dari pintu madrasah Hakim Nezami sampai perempatan jalan penuh anggota SAVAK. Setelah lama Imam Khomeini menceritakan: 

“Di sana mobil yang saya naiki diganti. Yakni saya dipindahkan dari mobil Volkswagen kecil yang dibawanya karena kecilnya gang ke mobil yang lebih besar. Jalan yang penuh dengan manusia itu tidak terdengar suara satu orangpun. Seperti jalan yang sepi.”

 Ketika saya kembali, saya melewati tangga naik ke atas dan masuk rumah. Saya melihat ibu meletakkan bantal dan menutupi kepalanya dengan selimut dan tidur. Ibu saya benar-benar memainkan peran dengan sangat baik selama ini.   

Ibu saya memaksa untuk pergi ke Turki. Tapi Imam Khomeini tidak mengizinkan. Beliau mengirimkan dua surat dari Turki untuk kami, tapi sayangnya dalam salah satu serangan, orang-orang SAVAK mendatangi rumah kami dan membawa surat tersebut. Kamipun pada waktu itu tidak terpikir untuk memfoto-kopikannya. Di dalam surat itu tertulis: 

“Anda jangan datang ke Turki dan tetaplah berada di Qom!” 

Dari sejak saat itu Imam Khomeini memiliki hubungan perasaan yang sangat ajaib dengan ibu kami. Kalaupun seandainya tidak ada hukum terkait masalah haji seperti yang disampaikan oleh Rahbar kita yang mulia Ayatullah Khamenei, hanya karena alasan ibu saya mengatakan kepada saya, ‘saya tidak rela’, maka spontan saya meninggalkan segalanya, karena saya punya alasan yaitu ayah saya di hari-hari terakhir kehidupannya memegang tangan ibu saya dan meletakkannya di atas tangan saya seraya mengatakan: 

“Jangan melakukan satu pekerjaan apapun yang tidak diridai beliau. Ibumu tidak memiliki siapa-siapa selain Allah!”

 Satu lagi saya sampaikan sebagai contoh, bila ibu kami belum siap untuk makan, maka Imam Khomeini tidak akan makan. Beliau akan menunggu dan ketika ibu kami sudah datang maka Imam Khomeini baru memulai makan. 

Contoh lainnya lagi, ketika orang-orang SAVAK mendatangi rumah kami untuk menangkap Imam Khomeini, Imam menyerahkan stempelnya kepada ibu saya, seraya berkata: 

“Ambil stempel ini dan nanti bila saya mengirim pesan, maka serahkan kembali!” 

Ibu saya menyembunyikan stempel tersebut dan kami tidak mengetahuinya. Sampai ketika Imam Khomeini pergi ke Turki dan dari sana ke Najaf dan dari Najaf mengutus seseorang menemui ibu saya, kemudian ibu saya menyerahkan stempel tersebut kepadanya. 

Setiap kali terjadi sebuah peristiwa seperti sakit, Imam Khomeini memanggil anak-anaknya dan mewasiatkan ibu kami. Beliau menjelaskan tentang kesusahan dan kesulitan yang dialami ibu kami dan berkata: 

“Kalian harus bisa mengambil keridaan ibu kalian!” 

Imam benar-benar halus perasaannya. Yakni misalnya ketika di Najaf, terkadang saudara-saudara perempuan saya datang ke sana. Ketika ingin kembali dan berpisah saya tidak pernah tahan untuk berdiri di halaman atau melihat perpisahan mereka. Almarhum saudara saya juga berkata, “Saya tidak bisa melihat detik-detik perpisahan itu.” Namun masalah ini sedikitpun tidak mempengaruhi beliau dalam mengambil keputusan. 

Dalam situasi dibombardir, bagaimana keberadaan Imam Khomeini dalam memberikan ketenangan kepada keluarga? 

Saya katakan bahwa ketika bom jatuh atau ada sesuatu yang terjadi, keluarga kami tidak lantas semuanya gemetaran. Kelihatan dari foto-foto yang ada, kami juga seperti warga lainnya hanya menempelkan isolasi pada kaca-kaca jendela dan tidak melakukan hal lain. Suatu hari ketika Tehran dibombardir, dengan tenang ibu saya masuk ke kamar. Selimut di atas tempat tidur miring. Beliau berkata, “Ahmad, pegang ujung selimut itu, kita luruskan!” Anti udarapun berfungsi dan Imam Khomeini tertawa. Yakni Imam Khomeini bukannya lantas berbicara setiap saat ada bom jatuh untuk menenangkan yang lainnya. Di awal hari-hari perang, seseorang dari tim insinyur staf gabungan datang ke Jamaran dan membangun sebuah tempat anti bom untuk Imam Khomeini. Ketika tempat itu dibangun, Imam Khomeini berkata:

 “Saya tidak akan ke sana.”

 Bangunan itu selesai dalam waktu empat sampai lima bulan. Ruangan yang berbentuk leter L dan luas 5×4 meter. Sampai akhir Imam Khomeini tidak pernah masuk ke dalam ruangan itu. Bahkan sekali saya berkata kepada Imam, “Ke sinilah, setidaknya Anda melihatnya!” Imam Khomeini berkata: 

“Dari luar sini sudah kelihatan dan saya juga sedang melihatnya dari luar bagaimana bangunannya.”

 Suatu hari setelah zuhur kira-kira ada tujuh sampai delapan bom jatuh di sekitar Jamaran. Saya menemui Imam Khomeini dan berkata, “Kalau sekali saja salah satu dari rudal kita jatuh di atas istana Saddam dan dia mengalami sesuatu, betapa senangnya kita? Kalau sebuah rudal jatuh di sini dan atapnya roboh dan Anda mengalami sesuatu, bagaimana?” Imam Khomeini menjawab:

 “Demi Allah, saya tidak menganggap istimewa dan beda antara saya dengan seorang Sepah yang berada di pertigaan jalan rumah. Demi Allah, bila saya yang mati atau dia yang mati, bagi saya tidak ada bedanya.” 

Saya berkata, “Kami tahu Anda seperti ini, tapi bagi masyarakat beda.” Imam Khomeini berkata: 

“Tidak, Masyarakat harus tahu bahwa bila saya berlindung di sebuah ruangan dan bom membunuh para Pasdaran di sekitar rumah saya dan tidak membunuh saya, maka saya sudah tidak layak lagi sebagai pemimpin masyarakat ini. Saya terhitung mengabdi kepada masyarakat selama kehidupan saya seperti kehidupan mereka. Bila masyarakat atau para Pasdarqn atau orang-orang yang tinggal di daerah ini mengalami sesuatu, biarkan saya juga harus mengalami sesuatu sehingga masyarakat tahu bahwa kita semua bersama-sama berdampingan.” 

Saya berkata, “Lalu sampai kapan Anda mau duduk di sini?” Imam Khomeini mengisyaratkan pada dahinya, seraya berkata: 

“Sampai rudal mengena di sini.” (IRIB Indonesia / Emi Nur Hayati) 

Dikutip dari penuturan almarhum Hujjatul Islam Sayid Ahmad Khomeini, anak Imam Khomeini ra.

Sumber: Pa be Pa-ye Aftab; Gofteh-ha va Nagofteh-ha az Zendegi Imam Khomeini ra, 1387, cetakan 6, Moasseseh Nashr-e Panjereh.

 

Sumber : Irib Indonesia

About admin