Kehadiran Syiah dalam Penyebaran Islam di Nusantara

Sejarah sangat penting untuk mengenal perjalanan budaya dan peradaban umat dan bangsa. Sejarah bukan hanya pelajaran tentang masa silam, tapi juga sumber inspirasi untuk melangkah ke masa yang akan datang, jika ada yang tidak baik di masa silam, jangan kita lakukan di masa depan.

Sejalan dengan pesan Proklamator dab Pressiden pertama Republik Indonesia, Bung Karno, untuk jangan sekali-kali melupakan sejarah (JAS MERAH), bangsa Indonesia khususnya umat Islam hendaknya perlu mengetahui sejarah kedatangan dan penyebaran Islam di Nusantara. Sejarah merupakan rekam jejak yang perlu digali untuk mengetahui akar spiritualitas dan budaya Islam di tanah air, yang dengan itu diharapkan umat Islam bisa mengambil pelajaran dan membangun masa depan yang lebih baik. Sejarah sangat penting untuk mengenal perjalanan budaya dan peradaban umat dan bangsa.

“Sejarah bukan hanya pelajaran tentang masa silam, tapi juga sumber inspirasi untuk melangkah ke masa yang akan datang, jika ada yang tidak baik di masa silam, jangan kita lakukan di masa depan. Sebagaimana yang dikatakan oleh Bung Karno, ‘Jangan sekali-kali melupakan sejarah,’ apakah Sejarah itu manis atau pahit, tetap kita harus ketahui. Apa yang baik di masa lalu, kita coba tingkatkan di masa depan, adapun sebaliknya kita tinggalkan dan kita tidak mengulanginya lagi.”  (Prof. Azyumardi Azra)

Indonesia memiliki posisi penting dan unik dalam dunia Islam. Pertama, Indonesia merupakan negara mayoritas Muslim yang terJauh dari tempat lahirnya Islam, yaitu Makkah dan Madinah.

Kedua, Indonesia merupakan negara Muslim terbesar di dunia meskipun mengalami penjajahan kolonial Belanda selama tiga abad. Banyak sarjana dan sejarawan yang bertanya mengapa Indonesia, yang sangat jauh dari tempat kelahiran Islam, lalu menghadapi kolonial Barat yang memusuhi Islam, bisa mempertahankan identitasnya sebagai penganut Islam terbesar di dunia.

Menurut KH Masdar F. Mas’udi, hal itu disebabkan oleh kenyataan sejarah bahwa Islam awal yang hadir ke Nusantara memiliki akar spiritualitas yang kuat dan mampu berasimilasi dengan kebudayaan lokal.

“...Karena itu, Indonesia berpeluang untuk menjadi salah satu pusat peradaban Islam masa depan ..” (KH. Masdar F. Mas’udi)

Merujuk kepada pandangan KH Masdar Mas’udi tadi, umat Islam Indonesia harus kembali kepada khittah spiritualitas Islam yang mengajarkan keterbukaan dan toleransi terhadap perbedaan di antara mereka demi persatuan dan persaudaraan Islam. Salah satu bentuk ukhuwah Islamiyyah yang sangat dibutuhkan sekarang adalah menjalin persaudaraan antara pengikut Sunni dan Syi’ah. Kedua mazhab besar Islam ini telah berinteraksi selama 14 abad melalui pasang surut hubungan yang konstruktif dalam membangun peradaban Islam. Akan tetapi, tidak ada masa yang lebih membutuhkan persaudaraan dan persatuan islam daripada zaman sekarang.

Persatuan Islam adalah syarat utama untuk membangun peradaban Islam masa datang. Syi’ah dan Sunni sama-sama menghadapi zaman yang diliputi oleh kehidupan yang sekuler, pengingkaran terhadap spiritualitas, penistaan terhadap keluhuran manusia, dekadensi moral, serta cara pandang dan sikap hidup yang memberhalakan materi.

“Peradaban Islam bukanlah peradaban sekuler, tapi peradaban yang menggabungkan rasionalitas dan spiritualitas. Sunni dan Syi’ah menyumbang kontribusi yang signifikan. Memang, kenyataan sejarah, dominan filsuf dan ilmuan yang bermunculan dari kebudayaan dan peradaban yang berafiliasi dengan Persia, namun ada juga di luar itu seperti filsuf pertama Al Kindi, dari Arab. Meskipun demikian, Persia lebih dominan dalam menyumbangkan filsuf seperti Al Farabi, Ibnu Sina, Nasiruddin At-Thusi. Baik Syi’ah maupun Sunni, masing-masing memberikan perannya, namun karena Persia merupakan peradaban besar dan hadir sebelum datangnya Islam, maka mereka yang berada di bawah pengaruh Persia baik Sunni maupun Syi’ah memberikan kontribusi signifikan, misalnya Jalaluddin Rumi dan Ibnu Arabi yang merupakan pemikir Sunni namun berada dalam naungan peradaban Persia. Perlu diakui, bahwa Syi’ah sebagai salah satu bagian Islam lebih kondusif terhadap pencarian ilmu-ilmu rasional dan ilmu-ilmu filosofis dibanding Sunni, maka dari itu tokoh-tokoh seperti Nasiruddin Thusi, Ibnu Sina, Mir Damad, dan Mulia Sadra memberikan pengaruh yang sangat besar pada peradaban Islam.” (Prof. Dr. Mulyadhi Kartanegara)

“Rektor Al Azhar pada tahun 1959, Syekh Mahmud Syaltut, mengeluarkan fatwa. Pertama, ibadah mazhab Ja’fari merupakan ibadah yang shahih dan kita dapat mengikuti salat (sebagai makmum) dibelakangnya. Kedua, mazhab Ja’fari (Syi’ah) agar diajarkan di universitas Al Azhar pada waktu itu.” (Dr. Asna Husin)

Cara terbaik membangun persaudaraan dan persatuan Islam adalah upaya saling mengenal satu sama lain. Salah satu bentuk usaha saling mengenal itu, dalam konteks Indonesia, adalah memahami interaksi sosial budaya keagamaan yang telah berlangsung lama sejak Islam datang di Nusantara. Fakta fakta sejarah menunjukkan bahwa kedua mazhab besar Islam ini telah hadir sejak awal penyebaran Islam di Nusantara. Penelitian sejumlah sejarawan mengungkap bahwa mazhab Syi’ah tidak hanya hadir sejak awal Islam di Hijaz tetapi juga sejak penyebaran awal Islam di Nusantara.

“Kita melihat bahwa baik Sunni maupun Syi’ah, sudah menginjakkan kakinya di nusantara ini sejak awal, meskipun belum ada kata final, siapa yang lebih dahulu datang. Meskipun penting siapa yang duluan datang, tapi realita kedua mazhab ini pengaruh mempengaruhi sejak awal. Dan saya pikir, hari ini kita harus melihat hal itu sebagai pondasi untuk supaya kita bisa bergerak ke upaya taqrib(Dr. Asna Husin)

Setelah terjadi konflik antara Bani Umayah dan Ahlulbait maka kebanyakan yang eksodus ke timur jauh. Antara lain, ke India, Cina dan akhirnya ke Indonesia. Maka Islam yang sejak mula di bawa ke Indonesia ialah Islam yang dibawa para Ahlulbait atau dzurriyat Rasulullah Saw. Contohnya, Syekh Ahmad Subakir dan Syekh Abdul Ghafur Annisaburi, termasuk Ahlulbait yang pertama datang ke Jawa dan berjumpa dengan Ratu Sima.

Mempertajam pandangan KH Masdar F. Mas’udi sebelumnya tentang akar spiritualitas Islam awal Nusantara, Prof. Dr. KH Said Agil Siradj mengungkapkan bahwa umat Islam Indonesia diberkahi oleh kehadiran Ahlulbait. Menurut beliau, penyebab mengapa Andalusia (Spanyol) yang dulu dikuasai keturunan Bani Umayyah selama 800 tahun tetapi kemudian musnah begitu saja dan masjid Cordoba joke telah berubah menjadi gereja, adalah mereka tidak menghormati Ahlulbait.

Berbeda dengan Islam di Indonesia, sekalipun belum pernah menjadi pusat peradaban Islam dan melahirkan sarjana-sarjana Islam dunia, umat Islam Indonesia berhasil mempertahankan identitasnya sebagai pengikut Nabi Muhammad SAW. Ini terjadi karena umat Islam Indonesia memiliki tradisi yang menghormati dan memuliakan Ahlulbait, keluarga dan keturunan Rasulullah SAW.

Demikian pula India yang pernah dikuasai oleh dua kerajaan besar Islam, yaitu Kesultanan Delhi dan Kesultanan Moghul sejak abad 13 hingga abad 19 M, tetap saja menjadi negeri mayoritas Hindu sekalipun digabung dengan Pakistan dan Bangladesh.

Dikutip dari buku Menguak Akar Spiritual Islam Indonesia, Peran Ahlulbait dalam Penyebaran Islam di Nusantara.
Penulis TIM ICRO dan Tim ACRoSS 

About admin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*