simbolisasi-nasi-tumpeng-660x330

Jejak-Jejak Ahlulbait Di Kabuyutan Sunda

simbolisasi-nasi-tumpeng-660x330Ahlulbait tak bisa dipisahkan dari sejarah Nusantara. Di berbagai penjuru negeri, jejak-jejak Ahlulbait bertebaran dan menyatu dengan darah dan nafas putra-putri pertiwi. Termasuk di Kabuyutan Sunda.

Saat ABI Press bertandang ke Gegerkalong Bandung dan mewawancarai Abah Yusuf Bahtiar, karuhun (sesepuh) Kabuyutan Gegerkalong, dia memaparkan bahwa sosok Ahlulbait dan 14 Manusia Suci tak terpisahkan dengan sejarah Kabuyutan Sunda. Berbagai adat dan tradisi Kabuyutan sangat kental dan tak bisa dipisahkan dari nama Ahlulbait.

“Saat Muludan, kita sebelumnya selalu sholawatan dan bertawassul kepada 14 Manusia Suci,” terang Abah Yusuf. “Dari Nabi Muhammad, Siti Fatimah, Sayyidina Ali, Sayyidina Hasan, Sayyidina Husen, Ali Zainal Abidin, Muhammad, Ja’far, Musa, Ali, Muhammad, Ali, Hasan Askari, dan Imam Mahdi Ratu Adil Sejati.”

IMG_2493 copy copy“Kita buat 14 nasi tumpeng. Ke 14 nasi tumpeng yang dijadikan sebagai barokahan itu adalah simbol dari 14 Manusia Suci ini,” tutur Abah Yusuf. “Ini adalah salah satu bagian bagaimana memelihara nilai-nilai karuhun (leluhur). Karena leluhur Kabuyutan itu adalah Nabi Muhammad, Baginda Ali, dan semua keluarga Nabi.”

Tak hanya dalam simbolisasi nasi tumpeng, syair-syair lagu daerah pun menjadi sarana para leluhur Kabuyutan untuk mengungkapkan kecintaannya kepada Baginda Nabi dan keluarganya.

“Dalam Maulid kita juga melantunkan lagu Bubuy Bulan dan Bentang Sulintang. Bubuy Bulan itu lagu yang menggambarkan bagaimana sunnah-sunnah atau tapak lacak petilasan gambaran tentang baginda Nabi itu telah dibubuy, dihilangkan oleh orang-orang tak bertanggungjawab,” tutur Abah Yusuf.

“Begitu pula keluarga Nabi yang mewarisi ilmu-ilmu kenabian itu pun dihilangkan oleh mereka. Sampai ada yang dibunuh, diracun, dan sebagainya. Yang terakhir, Imam Mahdi Satria Piningit Sejati itu pun sampai disembunyikan (Allah Swt) karena juga akan dibunuh.” lanjut Abah Yusuf. “Karena itulah, semua Kabuyutan menunggu datangnya Imam Mahdi.”

“Sementara lagu Bentang Sulintang menceritakan tentang keluarga Nabi yang bagaikan bintang di langit. Menjadi penunjuk arah di kegelapan malam,” tutur Abah Yusuf yang menyebutkan lagu-lagu ini sudah diwariskan turun-temurun sejak zaman Prabu Siliwangi, lebih dari 700 tahun yang lalu.

Mama Muhammad Hasan, Singanya Bandung

Jejak Ahlulbait pun sangat kental pada beladiri silat yang juga menjadi budaya khas warisan karuhun Kabuyutan Sunda. Sebelum belajar silat, para pesilat diharuskan membaca shalawat kepada Nabi dan keluarga Nabi.

IMG_2670 copy copySalah satu aksesori khas Kabuyutan juga batu akik Ali, yang dinisbahkan kepada Imam Ali bin Abi Thalib as. Juga ada batu pualam hijau bertatahkan sosok maung (harimau) yang memiliki rajah huruf Arab berawalan ‘ra’ dan akhiran ‘ain’. “Ra itu artinya Rasulullah, ‘Ain itu artinya Ali. Keduanya itu selalu sejajar dan ketemu. Simbolnya bahwa Sayyidina Ali itu selalu bersama Rasulullah.”

Dalam prosesi Ziarah pun, shalawat dan tawassul kepada Nabi dan 14 Manusia Suci selalu dibaca. SaatABI Press wawancara, Abah Yusuf dan rombongan Kabuyutan sendiri usai menziarahi leluhur mereka, Mama Muhammad Hasan yang genap 200 tahun disemayamkan.

Menurut penuturan Abah Yusuf, Mama Muhammad Nurhasan adalah leluhurnya karuhun Gegerkalong yang sangat ditakuti oleh penjajah Belanda saat itu karena keperkasaan dan keuletannya melawan Belanda. “Oleh Belanda, Mama Muhammad Hasan sampai diberi stempel Lion in Bandung, singanya Bandung,” ujar Abah Yusuf.

IMG_2779 copy copy“Beliau juga menulis kitab dalam bahasa Arab Sunda berjudul ‘Muslimin Muslimat’ yang oleh beliau kalau mau mengkaji kitab ini selalu diperintahkan untuk mencari guru mursyid yang sejati. Beliau sebutkan 14 Manusia Suci lebih awal, baru kepada bapaknya beliau, kakek beliau, dan seterusnya,” tutur Abah Yusuf.

Banyaknya jejak-jejak Ahlulbait di bumi Nusantara makin menunjukkan bahwa Ahlulbait tak bisa dipisahkan dari sejarah Nusantara, dan dari sejarah Islam di Indonesia. (Muhammad/Yudhi)

 

 

Sumber :  Ahlulbait Indonesia

About admin