Jangan Pernah Merasa Punya Jasa kepada Agama

Dalam sejarah Asyura, kita mengenaL kabilah Bani Asad. lnilah kabilah yang memiliki keberanian untuk menguburkan jenazah syuhada Karbala, menembus penjagaan ketat tentara lbnu Ziyad.

Kisah tentang Bani Asad ternyata bukan hanya yang terkait dengan peristiwa Asyura. Ada sejumlah kisah lainnya yang cukup menarik, dan salah satu di antaranya adalah yang terkait dengan ayat ke-17 dari surah Al-Hujurat di atas.

Diriwayatkan bahwa ketika di awal-awal keislaman kabilah ini, sejumlah utusan dari Bani Asad mendatangi Rasulullah sambil berkata, “Wahai Rasul, kami masuk Islam secara sukarela dan tanpa bantahan apapun. Tak ada perang yang terjadi, dan tak ada darah yang tertumpah. Apa yang kami lakukan ini harus Anda hargai.”

Dari kata-kata utusan Bani Asad itu bisa kita tangkap maksudnya bahwa dalam perspektif mereka, keimanan adalah bentuk jasa mereka kepada Allah dan Rasul-Nya. Karenanya, Allah dan Nabi punya ”utang budi” kepada mereka. Menanggapi kata-kata kaum Bani Asad itu, turunlah ayat ini sebagai bantahan. Dengan tegas dikatakan bahwa alih-alih manusia yang punya jasa kepada Rasulullah, kepada agama Islam, atau kepada Allah, justru merekalah yang berhutang budi kepada Allah karena dengan turunnya agama ini, mereka menjadi orang yang mendapatkan petunjuk. Mereka sama sekali tidak punya pamrih kepada agama Islam.

Dalam ayat ini’, “iman” justru disebut sebagai pamrih atau karunia (minnah) dari Allah kepada manusia, yang dengannya, manusialah yang harus bersyukur kepadaNya. Di ayat yang lain juga ditegaskan bahwa pengutusan para nabi adalah pamrih atau karunia Allah kepada manusia. Perhatikan Ali Imran ayat 164 yang berbunyi: “Sungguh Allah telah memberi karunia (laqad manna) kepada orang-orang yang beriman ketika Allah mengutus di antara mereka seorang rasul dari golongan mereka sendiri.”

Jika sikap Bani Asad itu dianggap aneh, sikap-sikap serupa yang ditunjukkan orang lain mestinya juga dianggap aneh dan layak dikecam. Inilah yang terjadi pasca wafatnya Rasul, ketika beberapa orang dari kaum Muhajirin dan Anshar berkumpul di Saqifah Bani Saidah. Mereka bertengkar memperebutkan kepemimpinan. Di sana, mereka sama-sama menepuk dada, menyatakan diri sebagai pihak yang pale berjasa kepada Islam.

Bagaimana dengan situasi di zaman sekarang? Adakah Anda menyaksikan orang-orang yang menuntut jabatan atau posisi tertentu, dengan dalih bahwa mereka telah berjuang untuk Islam? Bukankah ada juga di antara kita yang merasa telah melakukan hal yang berharga bagi mazhab Ahlulbait, untuk kemudian mengajukan tuntutan-tuntutan tertentu?

Para ustaz dan aktivis mazhab Ahlulbait mestinya tidak sampai terjatuh ke dalam sikap seperti itu. Posisi dan kedudukan sebagai aktivis memang seperti menyiratkan adanya jasa dari seseorang kepada Ahlulbait. Kemudian, sebagai balasan atas jasanya itu, orang tersebut mendapatkan kedudukan.

Kita jangan pernah terjebak ke dalam cara pandang seperti itu. Sebanyak apapun kebaikan yang kita tunjukkan untuk agama dan mazhab suci ini, kita tak pernah layak meminta upah atau balasan. Mengapa? Karena justru Ahlulbait lah yang berjasa kepada kita. Lantas, sebagai ucapan terima kasih kita kepada Ahlulbait, kita punya kewajiban melakukan hal terbaik untuk mazhab ini.

Ketika Al-Husain as hendak bergerak dari Mekah menuju Kufah, beliau berkata kepada orang-orang yang hendak ikut menyertai rombongannya: “Siapa yang rela mempersembahkan darahnya maka aku akan memberikan secawan anggur kesyahidan kepadanya, bukan kedudukan dunia.” [OS]

Dikutip dari majalah Al-Wilayah, edisi 26, hal 9

About admin