8413594252_a423cceb34

Hari Maulid Nabi saw Hari Persatuan Kaum Muslimin

8413594252_a423cceb34Tanggal 12 rabiul awal (RA) dikenal luas di kalangan ahlu sunnah wal jamaah sebagai hari kelahiran Nabi Muhammad saw. Namun ada juga ulama ahlu sunnah yang lain seperti Mas’udi  berpendapat  bahwa tanggal kelahiran Nabi saw adalah 8 rabiul awal. Demikian pendapat Mas’udi yang dapat kita baca dalam kitabnya Muruj al-Dzahab. Dalam riwayat-riwayat Ahlul Bait dilaporkan bahwa beliau lahir tanggal 17 rabiul awal. Adapun tahun kelahirannya semua sepakat tahun 570 masehi atau 53 tahun sebelum hijrah.

Para ulama yang agung dari kalangan sunnah syiah kemudian menjadikan antara tanggal 12 dan 17 rabiul awal sebagai Pekan Persatuan kaum muslimin. Diharapkan dengan keberkahan hari-hari yang mulia itu kaum muslimin dari dua mazhab yang besar ini akan bersatu-padu zohiran wa batinan; dan bahu membahu mengikuti derap langkah Nabinya yang suci, menanggalkan sikap fanatisme mazhab yang sempit  yang telah memasungnya dan  sama-sama mengayunkan kakinya untuk meneruskan perjuangan baginda Nabi saw.

Al-Quran mengkonfirmasikan bahwa misi besar Nabi Muhammad saw adalah “memanusiakan” manusia; menyelamatkan mereka dari kejatuhan kemanusiaan mereka, membebaskan mereka dari gelap gulita kebejatan moral yang telah melalaikan mereka, mengajak manusia kembali kepada fitrah suci yang telah Allah ciptakan secara inheren dalam jiwa mereka; mengembalikan mereka kepada Allah, Tuhan mereka yang  sesungguhnya; mengajak mereka untuk sadar bahwa dalam hidup ini ada Tuhan yang harus mereka sembah, mereka patuhi, mereka cintai, mereka syukuri dan mereka jadikan tempat harapan dan gantungan selama-lamanya. Pendek kata, Nabi Muhammad berjuang dengan penuh semangat  tanpa lelah mengajak manusia sadar bahwa hidup ini ada kelanjutannya dan tidak berhenti di dunia semata-mata. Kesadaran yang dibangun oleh Nabi yang agung ini bisa kita ringkas dengan istilah kesadaran teologis atau kesadaran Tauhid.

Kesadaran teologis ini dikumandangkan oleh Nabi sejak pertama kerasulannya di Mekah sampai akhir hayatnya di Madinah. Di setiap tempat beliau mengajak ummat manusia untuk berikrar la ilaha illal-Lah Muhammad(ur) Rasulullah (Tiada tuhan selain Allah dan Muhammad adalah utusan Allah). Lalu mengajarkan kepada mereka bagaimana seharusnya manusia bersikap kepada Tuhannya dan juga bersikap kepada umat manusia yang ada di sekelilingnya. Berdasarkan wahyu yang beliau terima dari Allah, Nabi yang mulia ini mengajarkan kepada ummat manusia bagaimana caranya (the how) membangun hablun minallah secara vertical dan hablun minan nas secara horizontal.

Beliau bukan hanya berteori dan berwacana hampa. Namun beliau tunjukkan dalam kehidupannya sehari-hari bagaimana seharusnya menjadi manusia yang sesungguhnya. Bagaimana seharusnya seseorang mengenal Tuhannya, menghargai Tuhannya dan bersyukur atas seluruh nikmat dan anugerah-anugerahNya.

Bukan sekedar itu. Beliau juga menunjukkan bagaimana manusia seharusnya menghargai manusia yang lain, tanpa pandang bulu apa ras dan sukunya, apa agamanya, apa status sosialnya, apa warna kulitnya dan apapun kepercayaan yang dianutnya.

“Hai umat manusia, sesungguhnya Kamilah yang menciptakan kalian, laki-laki dan perempuan, dan Kami jadikan kalian (terdiri dari) berbagai bangsa dan suku agar kalian saling mengenal. Sungguh manusia yang paling mulia di sisi Allah adalah orang yang paling bertaqwa kepada Allah (al-Hujurat, 13).

Kesempurnaan Nabi saw seperti itu diistilahkan oleh al-Quran dengan kalimat khuluqin ‘adzim, akhlak yang maha agung. Lewat akhlaknya yang agung inilah kemudian Nabi Muhammad saw diterima secara luas di zamannya dan bahkan di zaman-zaman setelahnya sekalipun. Lewat kekuatan akhlaknya yang mulia ini Islam kemudian mendapatkan penghargaan luas dari umat manusia, dahulu dan sekarang, yang kemudian menjadi magnit yang maha kuat menarik banyak manusia untuk ikut bergabung dengannya.

Hal ini diakui oleh kawan dan lawan; oleh orang jauh dan dekat; oleh Muslim dan non-muslim. Seorang ahli sejarah dari Inggris yang sangat terkenal, Edward Gibbon (1733-1794) pernah berkata: “Kesuksesan besar (Nabi) Muhammad adalah karena kekuatan moralnya, bukan karena pedangnya.”

Mahatma Ghandi (1869-1948)  pemimpin simpatik dari benua India juga pernah berkata: “Saya lebih yakin bahwa bukanlah pedang yang menyebabkan Islam meraih kemenangan di hari-hari kelahirannya. Tetapi kesederhanaan Nabi Muhammad yang jauh dari egoism, tepat janji, pengabdian dan pengorbanannya kepada para pengikutnya, berani, percaya mutlak kepada Allah dan kepada kebenaran yang dibawanya. Bukan pedang dan kekerasan.”

Kekuatan moral adalah kata kunci dari kesuksesan Nabi Muhammad saw dalam mengembangkan misi sucinya. Dalam bahasa arabnya sering disebut sebagai al-akhlak al-karimah. Al-akhlak al-karimah ini adalah “zona” bebas, yang tidak tunduk pada pendapat agama atau mazhab anu dan anu.  Akhlak karimah adalah aset umum semua agama dan mazhab dan diterima oleh semua agama dan mazhab. Sikap tawadhu’ (rendah hati), menghormati hak orang lain, kasih sayang, menolong orang yang butuh, belas kasih kepada orang yang lemah, wanita dan anak-anak, mengajar kepada yang jahil, mengenyangkan orang yang lapar dan sebagainya adalah contoh-contoh kecil dari moral indah yang dipraktekkan oleh Nabi saw dan yang harus dipraktekkan oleh setiap manusia yang ingin hidup mulia.

Tetapi sebaliknya, membunuh manusia tanpa dosa, menuduh orang lain dengan tuduhan negative, menghalalkan darah orang lain, merampas harta mereka, memperbudak orang-orang yang lemah,  mengancam, memfitnah, mencaci maki, berdusta, adalah sedikit contoh dari moral buruk yang diperangi oleh Nabi saw dan yang beliau ajak manusia untuk meninggalkannya.

Nabi telah sukses membawa pesan Allah kepada umat manusia. Beliau juga sukses mendidik manusia di zamannya dan sukses menarik hati-hati mulia untuk menjadi bagian dari pengikutnya, dahulu dan sekarang.

Pengikut Nabi yang sesungguhnya adalah mereka yang bukan hanya ikut Nabi secara lahiriah semata, namun yang benar-benar menjiwai pesan Nabi dan mempraktekkan ajarannya secara utuh dalam kehidupannya. “qul inkuntum tuhibbunal-Lah fat tabi’uni yuhbibkumul-Lah..” (Katakan apabila kalian benar-benar cinta kepada Allah maka ikuti aku (Muhammad).” (QS al-Imron, 31)

About admin