Eid al-Ghadir; Kebenaran yang dilupakan

Minggu ini, Muslim Syi’ah di seluruh dunia merayakan Idul Ghadir, menandai peringatan sebuah peristiwa penting dalam sejarah Muslim. Menurut kepercayaan Syi’ah, tradisi, dan interpretasi sejarah, kesempatan ini memperingati pertemuan penting di Ghadir Khum, ketika Nabi Muhammad saw — berdasarkan perintah ilahi dari Allah — menunjuk Imam Ali as sebagai penggantinya yang pertama dalam garis keturunan Imam yang berkelanjutan.

Dalam sumber-sumber sejarah, tercatat bahwa dalam perjalanan kembali ke Madinah setelah menunaikan ibadah haji ke Mekah, Nabi menerima wahyu — Surah al-Ma’idah (surah 5 ayat 67) sebagai berikut:

“Wahai Rasul, sampaikan [kepada orang-orang] apa yang telah diturunkan kepadamu dari Tuhanmu, dan jika Anda tidak melakukannya, maka Anda tidak akan menyampaikan risalah-Nya …”

Banyak sumber hadits yang dapat dipercaya — baik Syi’ah maupun Sunni — mencatat peristiwa ini, yang terjadi pada tahun 632 M. Setelah menerima wahyu ini, Nabi Suci berhenti di sebuah oasis yang dikenal sebagai Ghadir Khum, dan berkhutbah kepada sekelompok besar Muslim yang telah menemaninya. Dikatakan bahwa Nabi menyatakan: “Man kuntu mawlahu fa aliyyun mawlahu” yang berarti: “Dia yang Mawla-nya aku, Ali adalah Mawla-nya.” Nabi kemudian berdoa: “Ya Allah, jadikanlah teman siapapun yang menjadi temannya dan berikan dukungan Engkau kepada orang-orang yang mendukungnya.”

Menurut kepercayaan Syi’ah, dengan menyatakan Imam Ali as sebagai Mawla setelahnya, Nabi mengalihkan otoritas spiritualnya sendiri yang dianugerahkan kepadanya oleh Allah kepada Imam Ali as, dan menjadikan semua Imam yang mengikutinya Amirul Mu’minin, atau pemimpin orang beriman.

Atas instruksi dari Nabi Muhammad saw, Imam Ali menerima baiyat (sumpah setia), dari umat Islam yang berkumpul di sana. Menurut tradisi dan sumber Syi’ah, setelah proklamasi, ayat terakhir Al-Qur’an diturunkan kepada Nabi:

“Pada hari ini telah Aku sempurnakan bagimu agamamu, Aku sempurnakan nikmat-Ku atasmu, dan telah Kupilihkan Islam sebagai agamamu.”

Ini menandai akhir periode nabuwwah, atau kenabian, dan awal sejarah Lembaga Imamah. Idul Ghadir adalah hari peringatan yang sangat penting bagi semua Muslim Syi’ah, karena juga dikaitkan dengan tradisi yang telah dibuktikan dengan baik di mana Nabi dikatakan telah memproklamirkan:

“Aku tinggalkan di antara kalian dua perkara yang sangat berat (al-thaqalayn), Kitab Allah dan Keluargaku (itrati), Ahlulbaytku (Ahl al-Bayt), dan keduanya tidak akan pernah dipisahkan sampai mereka kembali kepadaku di Kolam [Kawtsar di Surga pada Hari Pembalasan]…”

Tradisi Syi’ah menjadi saksi keberlangsungan otoritas yang diberikan di Ghadir Khum. Tali Imamah telah berlanjut selama lebih dari 1400 tahun, dari Imam Ali as, hingga Imam turun-temurun saat ini dan keturunan langsung Nabi Muhammad saw melalui Imam Ali dan Fatima al-Zahra yaitu Imam Muhammad al-Mahdi as.

Dalam memperingati Idul Ghadir, Muslim syi’ah merayakan peristiwa penting Ghadir Khum, menegaskan kembali kesetiaan kami kepada Imam sebagai penerus garis lurus langsung dan pewaris otoritas Imam Ali as.

Eid al-Ghadir Mubarak!

Facebook
Twitter
LinkedIn
WhatsApp
Telegram
Email