Ehsan: Penghargaan terhadap Perbedaan adalah Penghargaan terhadap Proses Pencarian Jati Diri

Kajian rutin Malam Jumat di Husainiyah Amirul Mukminin kali ini sedikit berbeda karena kedatangan tamu istimewa seorang tokoh masyarakat Kota Pontianak, H. Andi Ehsan, SH., M.Si. sebagai narasumber.

Setelah pembacaan Doa Kumail, sekitar pukul 22.00 WIB kajian dimulai dengan pemaparan permasalahan kepemimpinan yang ada dalam Islam, terutama dari perspektif dua mazhab besar Sunnah dan Syiah.

Menurut Ehsan, dasar dari perbedaan antara Sunnah dan Syiah ada pada permasalahan kepemimpinan (leadership) dan “penggandengan” Kitab Suci Alquran dan Ahlulbait Nabi Saw.

“Hal ini menjadi permasalahan yang tidak kunjung selesai,” ucapnya.

Pada kesempatan itu, Ehsan menceritakan kembali kronologis peristiwa di Saqifah, yang pada kemudian hari dikenal sebagai salah satu dasar demokrasi dalam sejarah Islam. Demokrasi adalah istilah yang dipopulerkan oleh Montesquieu, yakni konsep pemilihan dari rakyat-untuk rakyat dengan aphorism Suara Rakyat adalah Suara Tuhan. Hal ini berbeda dengan Muslim Syiah yang memandang kepemimpinan sebagai otoritas Tuhan dengan kriteria kesucian (ma’shum) yang melekat pada pemimpin tersebut.

Sayyidina Ali bin Abi Thalib adalah figur istimewa, banyak keutamaan yang dimilikinya, sebagaimana dikatakan oleh lisan suci Baginda Nabi Saw. Syiah –sebagai kelompok yang dinisbatkan kepada Ali bin Abi Thalib– bukanlah kelompok yang menuhankan Ali, melainkan kelompok yang berusaha berjalan di khittah Ali bin Abi Thalib, sebagaimana disampaikan sendiri oleh Nabi Muhammad saw. Demikian pula Syiah bukan hal baru dalam sejarah Islam.

Pria yang berprofesi sebagai advokat ini mengatakan bahwa ketika kita mengatakan sebagai penyanjung atau pengikut Ali, maka dipastikan kita akan berhadapan dengan kondisi yang berat.

Terkait dengan perbedaan mazhab dalam dunia Islam , Ehsan mengatakan bahwa kita seharusnya mempelajari, tidak serta-merta menjustifikasi.

“Jangan menjustifikasi seseorang, semua memiliki dasar hukum,” lanjutnya lagi.

“Selama kita berpandangan bahwa ketika seseorang telah bersyahadat, berarti orang tersebut adalah seorang Muslim,” tegas Ehsan.

Perbedaan, menurut Ehsan, pada dasarnya merupakan upaya manusia dalam proses pencarian jati diri, sebagai upaya manusia untuk menemukan kebenaran.

Setelah diskusi dan tanya-jawab, kajian diakhiri dengan penyerahan cinderamata buku Syiah Menurut Syiah dan Studi Komparatif Buku Mengenal Kesesatan Syiah dari Dewan Pengurus Wilayah Ahlulbait Indonesia Kalimantan Barat, Muhammad Darwin, SE., MM., kepada narasumber. (Hakeem/Yudhi)

Related posts:


Ahlulbait IndonesiaSikap Resmi Ormas Islam Ahlul Bait Indonesia atas Klasifikasi Syiah Indonesia Menurut Habib Rizieq Shihab


muktamar-nu-ke-33-ABI-PressJokowi: Islam Nusantara Role Model Islam Damai


Kemenag-WonosoboTekad Kemenag Wonosobo Wujudkan Layanan Prima Tanpa Gratifikasi


Cak-NunCak Nun: Mustahil Cinta Allah Tapi Benci Sesama

About admin