Umat Muslim Sunni dan Syiah merayakan Idul Adha secara rukun di Jepara pada tanggal 26 Oktober, memperingati kesediaan Nabi Ibrahim untuk mengorbankan putra pertamanya, Ismail.
Umat Muslim Sunni dan Syiah merayakan Idul Adha secara rukun di Jepara pada tanggal 26 Oktober, memperingati kesediaan Nabi Ibrahim untuk mengorbankan putra pertamanya, Ismail.

Di kota Jawa Tengah ini, Sunni dan Syiah hidup rukun

Persahabatan dan toleransi adalah sifat hubungan Sunni-Syiah di wilayah pelabuhan yang membanggakan riwayat penuh toleransinya ini.

Banyak orang berkata Indonesia semakin tidak toleran terhadap kaum minoritasnya, tetapi hal itu tidak terjadi di beberapa tempat. Di desa Banjaran, Kabupaten Jepara, Jawa Tengah, Muslim Sunni dan Syiah hidup rukun.

Umat Muslim Sunni dan Syiah di Jepara, Jawa Tengah shalat bersama dengan damai. “Kami tidak takut di sini,” menurut penganut Syiah kepada Khabar Southeast Asia pada tanggal 21 September, setelah shalat Jumat. [Foto: Yenny Herawati/Khabar].

Umat Muslim Sunni dan Syiah di Jepara, Jawa Tengah shalat bersama dengan damai. “Kami tidak takut di sini,” menurut penganut Syiah kepada Khabar Southeast Asia pada tanggal 21 September, setelah shalat Jumat. [Foto: Yenny Herawati/Khabar].

Serangan pada akhir bulan Agustus kepada sebuah komunitas Syiah di Sampang, Madura – 400 km sebelah timur wilayah ini – menewaskan dua orang dan membuat 200 orang kehilangan tempat tinggal. Tetapi konflik ini belum mengganggu kerukunan sosial di wilayah ini.

Seperti halnya tempat lain di Indonesia, Muslim Sunni adalah warga mayoritas di Jepara. Kebanyakan dari mereka juga anggota Organisasi Muslim terbesar negeri itu, Nahdlatul Ulama (NU). Tetapi di Banjaran juga terdapat Pesantren Darut Taqrib, yang memeluk Islam Syiah.

Sebuah penyelidikan Khabar menemukan bahwa meskipun hanya 200 keluarga di kota ini adalah Syiah, mereka merasa aman menjalankan keyakinan mereka.

Persahabatan melampaui perbedaan agama

Menurut Miqdad Turkan, pemimpin Pesantren Darut Taqrib, berbagai faktor membuat umat Sunni dan Syiah hidup rukun di sini.

“Ada persahabatan yang baik antara pengikut Sunni dan Syiah. Kami saling menghormati tanpa mempedulikan keyakinan kami,” katanya. “Kami juga sering mengatur kegiatan sosial seperti sumbangan darah, membantu korban bencana, dsb.”

Pemindahan dari satu cabang agama Islam kepada yang lain tidak menyebabkan kemarahan sektarian yang telah terjadi di beberapa wilayah negara ini.

Abdul Ghadir Bafaqih, seorang misionaris Syiah, dulunya adalah guru Muslim Sunni yang terkenal. Pada saat dia menjadi Muslim Syiah, dia tidak mengalami keberatan apapun dari mantan murid atau keluarganya, katanya.

“Saya cukup lama tinggal di sini dan mengenal semua orang di sekitar desa, kecuali jika mereka pindah untuk bekerja, menikah, atau bersekolah, dan tidak pernah kembali,” katanya.

Umat Muslim Sunni dan Syiah merayakan Idul Adha secara rukun di Jepara pada tanggal 26 Oktober, memperingati kesediaan Nabi Ibrahim untuk mengorbankan putra pertamanya, Ismail.

Umat Muslim Sunni dan Syiah merayakan Idul Adha secara rukun di Jepara pada tanggal 26 Oktober, memperingati kesediaan Nabi Ibrahim untuk mengorbankan putra pertamanya, Ismail.

Seorang pengikut Syiah baru, Muhammad Ali, berkata bahwa keputusannya menjadi Muslim Syiah tidak disebabkan pengaruh yang tidak pantas. Dia tertarik akan ajaran Syiah melalui buku-buku.

“Saya membaca banyak buku Islam sejak masih kecil. Inilah kenapa saya bisa membedakan antara berbagai aliran pemikiran Islam,” kata Ali kepada Khabar Southeast Asia. Dia berkata, sementara keluarganya yang beragama Sunni mungkin tidak setuju dengan pilihannya, mereka menghargainya dan tidak merasa dikhianati olehnya.

Tradisi panjang keragaman di kota pelabuhan

Menurut Miqdad, warga Jepara mengakui keragaman sebagai ciri khas wilayah mereka, tempat sebuah pelabuhan yang penting secara sejarah dan telah disentuh berbagai pengaruh agama, termasuk Kristen, Hindu, Budha, dan tentu saja, Islam.

“Jika tidak hidup rukun, kami pasti mengalami konflik sejak beberapa dekade yang lalu,” katanya.

Achmad Zaelani, seorang Muslim Sunni, setuju bahwa latar belakang Jepara sebagai kota pelabuhan telah membentuk sikapnya yang sekarang terhadap perbedaan agama. “Kami memiliki sejarah khusus akan toleransi, yang mungkin tidak ditemukan di tempat lain. Kami akan meneruskan pusaka ini,” katanya.

Sikap seperti itu bermanfaat bagi Islam secara keseluruhan, dia menambahkan.

“Bisakah Anda bayangkan jika Syiah dan Sunni di tempat lain hidup rukun seperti kami di sini? Itu akan memikat lebih banyak pengikut. Orang akan melihat Islam sebagai agama penuh kerukunan,” ungkap Achmad.

Achmad mengutarakan kekecewaan akan konflik di Sampang. “Ini bukan contoh yang baik akan kehidupan rukun Islam. Kejadian ini menyedihkan,” katanya kepada Khabar.

 

Sumber : Khabarsoutheastasia.com

About admin