Dalami Sejarah dengan Ziarah

Forum Antar Umat Untuk Solidaritas Kemanusiaan dan Lingkungan (FAUSAN) Kabupaten Ketapang adalah salah satu kumpulan pemuda yang rutin menggelar kegiatan pengkhidmatan pada masyarakat. Aktivitas dwi mingguan mereka di antaranya adalah melakukan kegiatan bersih-bersih di pemakaman, membersihkan surau, membagikan tempat sampah untuk surau dan yang terbaru adalah membagikan rehal secara gratis ke beberapa surau dan guru mengaji di Ketapang dalam rangka persiapan menyambut hadirnya bulan Ramadhan.

Menurut Mohrizal, salah satu pegiat FAUSAN, kegiatan ini adalah inisiatif komunitas dalam rangka membantu masyarakat dan Pemerintah Kabupaten Ketapang.

“Tanpa mengenyampingkan ritual-ritual ibadah rutin, kami percaya bahwa khidmat sosial juga memiliki keutamaan sendiri. Ini selaligus bukti nyata partisipasi aktif kami terhadap masyarakat,” ucapnya.

Secara periodik, para pegiat FAUSAN membersihkan situs-situs pemakaman, termasuk komplek pemakaman kuno dan pemakaman para raja di Ketapang.

“Kami ingin para peziarah merasa nyaman dan tenang ketika berziarah. Ini sekaligus melestarikan aset cagar budaya di daerah kami,” lanjutnya.

Mohrizal meyakini bahwa nisan-nisan tua yang tersebar di Ketapang merupakan bukti pernah ada peradaban besar di Ketapang yang mengundang para saudagar dari berbagai bangsa untuk datang berniaga.

“Sebagian mungkin pulang ke negeri asalnya, sementara sebagian lain tetap tinggal. Bukti interaksi budaya itu masih ada hingga kini,” jelasnya lagi.

“Saya justru heran dengan pelarangan ziarah yang dilakukan beberapa kelompok, padahal berziarah adalah upaya mengakrabkan diri dengan sejarah,” pungkas Mohrizal saat ditanya mengenai kelompok tertentu yang melarang ziarah.

“Bung Karno sendiri pernah berujar, ‘Jangan Lupakan Sejarah!’ Salah satu bentuk mempelajari sejarah adalah berziarah. Doakan kami agar kelak bisa ziarah dan bersih-bersih di makam Bung Karno,” tambahnya di sela-sela kegiatan silaturahminya di Kota Pontianak.

Selama ini dana yang mereka gunakan dalam beraktivitas berasal dari sumbangan swadaya internal. Bagi mereka, menurut Mohrizal, yang penting berkhidmat untuk sesama, dana yang minim tidak akan menjadi penghalang.

“Dalam rangka Ramadhan, kami sedang mengupayakan menyalurkan Alquran ke majelis-majelis pengajian dan surau, mudah-mudahan lancar,” harapnya.

Saat ini, FAUSAN Ketapang juga tengah melakukan pendataan situs-situs warisan budaya dan pendokumentasian aset-aset cagar budaya yang ada di Ketapang dan sekitarnya. (Hakeem/Yudhi)

About admin