qaeda1-53fcafebd4e63

Benarkah Para Teroris Taat Beragama? (2)

qaeda1-53fcafebd4e63Setelah menyodorkan sejumlah referensi yang mendukung asumsinya, Hasan melanjutkan argumennya: alih-alih berpijak pada motif-motif religius, terorisme lebih banyak dipicu oleh faktor-faktor radikalisasi yang lain. Di antaranya, kemarahan moral, kekecewaan, tekanan kelompok sebaya, krisis identitas, hiangnya rasa memiliki dan tujuan hidup.

Antropolog Scott Atran meringkaskan motif-motif itu dalam kesaksiannya di Senat AS, Maret 2010 lalu: “… Apa yang menginspirasi para teroris paling mematikan di dunia saat ini bukanlah Al-Qur’an atau ajaran-ajaran agama, melainkan dorongan dan gairah menggelora untuk melakukan aksi yang menjanjikan kejayaan dan kehormatan di mata teman-teman sebaya, dan melalui mereka, penghargaan dan kenangan abadi di dunia yang lebih luas.” Atran melukiskan para calon jihadis sebagai remaja yang “dirundung kejenuhan, kurang pekerjaan, kelebihan sanjungan dan kurang gairah” yang melihat “jihad sebagai sesuatu yang egalitarian, kesempatan kerja yang setara… penuh keseruan, kejayaan dan keasyikan.”

Atau, mengutip Chris Morris, penulis dan sutradara komedi hitam produksi 2010 berjudul Four Lions—yang mensatirkan kedunguan, kekonyolan dan keluguan murni beberapa jihadis Muslim asal Inggris—pernah menyatakan: “Terorisme memang berkaitan dengan ideologi, tapi lebih banyak lagi berkaitan dengan kedunguan.”

Orang-orang lugu, bukan para martir—itulah mereka.

“Sosok-sosok dungu,” kata kepala MI6 Richard Dearlove, bukan pejuang-pejuang suci. Jika kita ingin menangani jihadisme, kita perlu berhenti membesar-besarkan ancaman remaja ini dan memberi oksigen ketenaran dan kemasyhuran yang mereka idam-idamkan, lalu mulai menggarisbawahi bagaimana banyak dari mereka benar-benar hidup bertentangan dengan aturan Syariat di luar dinas “jihad” mereka.

Semasa hidup di Filipina tahun 1990-an, Khalid Sheikh Mohammed, yang digambarkan sebagai “arsitek utama” serangan 11 September oleh Komisi 9/11, pernah menerbangkan helikopter di atas gedung kantor tempat pacarnya bekerja dengan spanduk bertuliskan “I love you.” Keponakannya, Ramzi Yousef, yang divonis penjara seumur hidup karena perannya dalam aksi teror World Trade Center 1993, juga punya pacar dan, seperti pamannya, kerap terlihat di daerah pelacuran Manila. Agen FBI yang memburu Yousef mengatakan bahwa dia “bersembunyi di balik jubah Islam.” Sejumlah keterangan saksi mata menyatakan bahwa para pembajak 9/11 sering mengunjungi bar dan klub tari telanjang di Florida dan Las Vegas beberapa saat sebelum melakukan aksi teror mereka. Para tetangga Hamid Ahmidan—terpidana kasus peledakan kereta di Madrid tahun 2004—mengenangnya sebagai “pria yang suka berkeliling dengan motor dengan pacarnya yang berambut panjang, wanita Spanyol yang berselera mengenakan busana super ketat,” menurut berbagai laporan media.

Agama, sudah tentu saja, memainkan peran penting dalam semua ini, terutama bentuk Islam yang diselewengkan dan dipolitisasi menjadi “kendaraan emosional”, sebagai sarana mengartikulasi kemarahan dan memobilisasi massa di belahan dunia yang berpenduduk mayoritas Muslim. Tapi, prasangka bahwa bahaya itu datang dari mereka yang taat beragama dapat menghilangkan nyawa yang tak berdosa. Harus ada penawar generalisasi yang kian mengharu-biru media. Bahwa tidak semua Muslim itu Islamis, tidak semua Islamis itu jihadis dan sebagian terbesar semua jihadis justru tidak taat dalam beragama. Mengklaim sebaliknya bukan saja tidak akurat dan melenceng tapi juga dapat mengakibatkan korban jiwa yang tak berdosa.

Kesimpulannya, menurut Hasan, di dunia nyata, bukan dunia yang dibentuk media, calon-calon jihadis umumnya justru tidak begitu paham agama, tidak taat menjalankannya dan memiliki motif-motif yang justru dikecam oleh agama, seperti mencari kemuliaan kemasyhuran pribadi dan sejenisnya. Di sisi lain, aparat keamanan dan hukum juga harus mulai membaca buku-buku yang mengambil perspektif lain tentang para jihadis tersebut dan menonton—setidaknya—film-film sejenis The Four Lions yang memperlihatkan para calon pejuang suci dari sudut pandang yang terbalik.

Sumber :Islam Indonesia

About admin