qaeda1-53fcafebd4e63

Benarkah Para Teroris Taat Beragama? (1)

qaeda1-53fcafebd4e63Bisakah Anda menerka bahan bacaan macam apa yang dipesan dua teroris Yusuf Sarwar dan Mohammed Ahmed dari Amazon sebelum mereka berangkat dari Birmingham untuk berjihad di Suriah, Mei silam? Tidak mudah. Mereka tidak membaca karya-karya ideolog macam Sayyid Qutb, pesan-pesan Usama bin Laden, buku-buku kaum anarkis atau sejenisnya. Tidak.

Sarwar dan Ahmed, yang sama-sama telah menyatakan bersalah atas tuduhan terorisme, membeli buku pengantar Islam berjudul Islam for Dummies dan The Koran for Dummies. Kedua buku ini menunjukkan tingkat pemahaman Islam kedua “mujahid” tersebut. Dua karya tingkat dasar itu mengukuhkan lebih jauh argumen yang menyatakan bahwa ajaran Islam nyaris tidak berhubungan dengan gerakan jihad modern.

Kaum remaja Muslim bermata nanar yang terlihat menikmati penyembelihan dan pemboman sadistis itu boleh jadi berupaya menjustifikasi aksi-aksi kekerasan mereka dengan retorika religius— seperti aksi-aksi eksekusi mati dan penyembelihan mereka yang selalu dimeriahkan oleh teriakan “Allahu Akbar”; ISIS yang menyembelih fotojurnalis James Foley sebagai bagian dari “jihad”. Tapi, faktanya, semangat agama bukan yang paling besar memotivasi mereka.

Mehdi Hasan, kolumnis dan pemerhati masalah agama, membeberkan kesahihan argumen di atas. Pada tahun 2008, sebuah catatan rahasia ihwal radikalisasi, yang dipersiapkan oleh unit sains perilaku lembaga MI5, bocor ke koran The Guardian. Catatan itu menyebutkan, “jauh sikap dari orang-orang yang taat beragama, sejumlah besar mereka yang terlibat dalam terorisme tidak mengamalkan ajaran agama secara teratur. Banyak dari mereka minim pengetahuan agama dan dapat dianggap sebagai awam dalam agama.” Para analis di lembaga itu menyimpulkan bahwa “identitas agama yang mapan justru dapat mencegah radikalisasi yang keras,” tulis koran tersebut.

Untuk pembuktian yang lebih banyak, bacalah buku-buku psikiater forensik dan mantan petugas CIA, Marc Sageman; ilmuwan politik Robert Pape; sarjana hubungan internasional Rik Coolsaet; pakar Islamisme Olivier Roy; antropolog Scott Atran. Mereka semua telah mempelajari kehidupan dan latarbelakang ratusan jihadis (mujahid) penggemar bedil, pelempar bom dan penyembelih leher. Dan semua pakar itu sepakat bahwa Islam sama sekali tidak berhubungan dengan perilaku mereka.

Sumber :Islam Indonesia

About admin