Bedah-Buku-Syiah-Menurut-Syiah-di-UIN-Jakarta-660x330

Bedah Buku Syiah Menurut Syiah Di UIN Jakarta

Muhsin-LabibUntuk kesekian kalinya, buku Syiah Menurut Syiah (SMS) dibedah. Kali ini (27/11) tim penulis buku Syiah Menurut Syiah dari Ormas Islam Ahlulbait Indonesia (ABI) bekerjasama dengan pihak UIN Syarif Hidayatullah (Fakultas Ushuluddin) Jakarta. Acara tersebut berlangsung di Aula Student Center UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Sebelumnya, ABI juga sempat bekerjasama dengan pihak lain dalam bedah buku SMS (Bedah Buku SMS di P3M).

Secara umum, Dr. Muhsin Labib, MA selaku narasumber mewakili tim penulis ABI membagi sistematika penulisan buku tersebut ke dalam dua garis besar yaitu konsep dan realita. Secara khusus, ingin memahamkan kepada pembaca bahwa apa yang setiap orang pahami adalah sebuah persepsi, tidak absolut, relatif dan tidak mutlak benar. Sehingga, apa yang dilihat secara realita bukanlah sebuah tolak ukur untuk memahami sebuah kebenaran.

Sebagai contoh, ketika ada seorang mengaku Syiah dan mengkafirkan sahabat Nabi, tidak dapat disimpulkan bahwa ajaran Syiah mengkafirkan sahabat Nabi. Karena hal itu adalah perilaku individu yang tidak mewakili sebuah konsep ajaran.

“Perilaku individu tidak dapat dijadikan tolok ukur ajaran agama,” tutur Muhsin Labib.

Terlebih, ulama Syiah telah memfatwakan haram menghina simbol-simbol yang diagungkan oleh Muslim Sunni. Ketika masih ada yang mengkafirkan sahabat Nabi yang diagungkan oleh Muslim Sunni, secara otomatis telah keluar dari mainstream Syiah sebagai konsep ajaran yang dipahami. Sebagaimana halnya ketika Saddam Husein membantai jutaan Muslim Syiah, tak satupun Muslim Syiah menganggap Saddam adalah representasi Sunni dalam melakukan pembantaian umat Islam.

Lebih lanjut menurutnya, tidak ada Sunni membunuh Syiah, dan tidak ada Syiah membunuh Sunni. “Kalau ada yang membunuh Sunni, dia bukan Syiah. Kalau ada yang membunuh Syiah, dia bukan Sunni,” tegasnya.

Terkait isu banyaknya cabang Syiah, seorang peserta bedah buku menanyakan soal judul buku Syiah Menurut Syiah. “Syiah yang mana?” tanya peserta. Muhsin Labib menjelaskan bahwa secara umum yang diterima sebagai konsep ajaran Islam adalah Syiah Imamiyah Istna Asyariah dan buku tersebut menjelaskan Syiah secara umum.

Narasumber lain adalah Dr. Faris Pari, dari UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Menurutnya, perbedaan yang sering dipahami adalah perbedaan dalam ranah praktis. Bukan filosofis teoritis. Hal itu selaras dengan yang dimaksud Muhsin Labib tentang konsep dan realita. Orang banyak menilai sesuatu dalam ranah realita, bukan konsep.

“Karena kalau melihat yang beda akan menimbulkan pertanyaan-pertanyaan, problem, pelenyapan bahkan berujung pada pembunuhan,” tutur Faris Pari. Hal itu dapat dilihat misalnya dalam kasus Muslim Syiah Sampang Madura.

Terkait konsep Taqiyah (tidak menampakkan kebenaran) dalam ajaran Syiah diakuinya bahwa hal itu berada dalam ranah praktis dan berkutat dalam problem sosial budaya, bukan pada ranah konsep agama. Sebagai contoh, ketika orang Syiah berbaur, shalat berjamaah dengan Muslim Sunni, tangannya sedekap (tidak lurus), dengan pertimbangan tertentu demi menjaga keharmonisan hubungan sosial.

Acara yang berlangsung mulai pukul 09.00 hingga 11.00 WIB itu dihadiri lebih dari 200 peserta; mahasiswa maupun umum.

Mufin, salah satu peserta dari Fakultas Filsafat UIN Syarif Hidayatullah Jakarta saat ditanya apa yang diketahuinya tentang Syiah, dia mengaku tidak tahu-menahu.

“Awalnya yang saya tahu, Syiah itu mut’ah dan syahadatnya berbeda,” tutur Mufin. “Jadi, ini usaha bagus untuk memperkenalkan diri,” pujinya. (Malik/Yudhi)

 

Sumber :Ahlulbait Indonesia

About admin