Bila kalian memperhatikan ibarat islami tentang wanita, terdapat ibarat hakiki“almar’atu raihaanatun wa laisat biqahramaanatun...Wanita adalah bunga bukan pelayan.” (Nahjul Balaghah; surat 31, wasiat Imam Ali kepada Imam Hasan ketika kembali dari Shiffin)
Bila kalian memperhatikan ibarat islami tentang wanita, terdapat ibarat hakiki“almar’atu raihaanatun wa laisat biqahramaanatun...Wanita adalah bunga bukan pelayan.” (Nahjul Balaghah; surat 31, wasiat Imam Ali kepada Imam Hasan ketika kembali dari Shiffin)

Bagaimana Islam Memandang Perbedaan Wanita dan Pria

Bila kalian memperhatikan ibarat islami tentang wanita, terdapat ibarat hakiki“almar’atu raihaanatun wa laisat biqahramaanatun...Wanita adalah bunga bukan pelayan.” (Nahjul Balaghah; surat 31, wasiat Imam Ali kepada Imam Hasan ketika kembali dari Shiffin)

Bila kalian memperhatikan ibarat islami tentang wanita, terdapat ibarat hakiki“almar’atu raihaanatun wa laisat biqahramaanatun…Wanita adalah bunga bukan pelayan.” (Nahjul Balaghah; surat 31, wasiat Imam Ali kepada Imam Hasan ketika kembali dari Shiffin)

Wanita adalah bunga – raihan yakni bunga – apa yang akan dilakukan manusia terhadap bunga? Bagaimana caranya menghadapi bunga? Bila bergulat dengan bunga, maka bunga akan mati. Bila bunga dikenal sebagai bunga dan bersikap sesuai dengan posisinya sebagai bunga, maka ia akan menjadi hiasan, berpengaruh dan tampak menonjol keberadaannya.

“wa laisat biqahramaanatun” maknanya bukan sebagaimana qahremanyang kita sebut dalam bahasa Persia. Ini adalah ibarat bahasa Arab yang diambil dari bahasa Persia. Qahraman secara ringkas adalah pelayan, yakni di rumah kalian, jangan menganggap istri sebagai pelayan kalian. Kalian jangan berkhayal sebagai pemimpin; lantas semua pekerjaan rumah, anak-anak dan sebagainya menjadi beban pelayan, apalagi pelayannya wanita, sehingga harus bersikap seperti seorang pemimpin terhadapnya! 

Tidak. Sama sekali masalahnya bukan ini. Lihatlah, menghadapinya harus secara hakiki dan langsung terhadap tabiat wanita. Seorang wanita tidak akan bisa melupakan tabiatnya sendiri. (30/4/1376) Secara alami wanita tidak suka akan pekerjaan ini. Keduanya dalam kondisi yang tidak tepat. Feminisme yang ada di dunia saat ini yang di sana ada segala macam pria dan wanita dan mengklaim membela hak-hak wanita, menurut saya mereka sama sekali tidak mengenal hak-hak wanita. Karena hak itu bukan perkara yang dicerap. Kalian sebagai orang terpelajar tentu tahu dengan baik makna ini. Hak bersumber pada tabiat alam. Hak hakiki adalah yang memiliki sebuah sumber, yang memiliki sumber alami. Hak-hak yang mereka definisikan tidak memiliki sumber, tapi berdasarkan khayalan. Hak-hak wanita dan pria yang ada harus bersandarkan pada tabiat alam. Tabiat alam wanita berdasarkan struktur penciptaan wanita dan tabiat alam pria juga berdasarkan struktur penciptaan pria. (22/12/1378)

Secara ringkas, bila kita ingin menjelaskan perbedaan-perbedaan ini, harus kita katakan bahwa wanita dalam struktur keberadaan dan tabiatnya memiliki kehalusan lebih daripada pria. Kita tidak mengatakan tidak begitu kuat, karena kemajuan-kemajuan keilmuan bahkan dalam beberapa kasus malah sebaliknya, yakni resistensi kaum wanita dalam sebagian besar masalah materi dan jasmani lebih besar dari kaum pria. Namun wanita memiliki kehalusan tersendiri, sisi jasmaninya lebih kecil dan perasaannya lebih rentan untuk hancur. Inilah perbedaan alami antara wanita dan pria.

Bila dua makhluk ini dimana yang satu jasmaninya lebih kuat, lebih kokoh dan lebih keras dari yang lainnya. Yakni postur tubuhnya lebih tinggi, tulang-tulangnya lebih besar, suaranya lebih besar, lebih keras dan kekuatannya lebih besar, sementara yang satu katakanlah kekuatannya lebih rendah, otot-ototnya lebih lemah, hidup di lingkungan yang tak mengenal hukum dimana akal, pikiran dan logika di sana lemah, maka akan jelas bagaimana kondisinya. Yang lebih kuat akan menganiaya yang lebih lemah, akan menjajah dan mengganggu serta akan menjadikannya sebagai pelayan baginya dan ini merupakan perkara yang tidak menyenangkan. Bila tidak ada akal dan hukum, maka inilah yang akan terjadi.

Tentunya untuk menguasai lelaki, wanita memiliki berbagai kemampuan, pekerjaan, cara dan ciri khas tersendiri. Namun bila akal dan pemikiran mendominasi, maka cara-cara itu akan dipakainya. (22/8/1374)

Kaum wanita dengan pemikiran dan dengan kehalusannya mampu memutar lelaki di tangannya. Manusia selain menyaksikan hal ini atas dasar pengalaman yang ada, ia juga bisa membuktikannya dengan analogi pemikiran dan rasio. Ini adalah sebuah kenyataan. Iya, ada wanita-wanita yang tidak menggunakan pemikirannya sehingga tidak mampu melakukan hal ini. Tapi seorang wanita yang ahli berpikir, ia akan menjadikan lelaki di bawah kendalinya. Ini bak seseorang yang mampu memasang tali kendali pada seekor singa yang buas lalu mengendarainya. Ini bukan berarti dari sisi jasmani ia lebih kuat dari singa ini. Artinya adalah ia mampu menggunakan kekuatan spiritual ini. Kaum wanita memiliki kemampuan ini. Hanya saja, dengan kehalusan. Kehalusan yang kami sebutkan bukan hanya kehalusan dalam susunan dan struktur jasmani, tapi kehalusan dalam berpikir dan mengambil keputusan yang ditetapkan oleh Allah dalam diri wanita. (21/2/1392)

Bila tidak ada pemikiran dan hukum, dan lingkungannya bukan lingkungan yang rasional dan tidak menggunakan cara yang rasional, maka pada saat itu akan timbul kerugian di lingkungan umat manusia dan sayangnya ini sudah terjadi sejak awal dan sampai saat ini masih terjadi. Dan itu adalah penyalahgunaan terhadap jenis yang satu oleh jenis yang lain. Maksud kami dari jenis adalah bukan jenis logis. Tapi ibarat yang sudah biasa dan terkenal. Satu jenis atau satu golongan yaitu jenis laki-laki dalam lingkungan yang tidak mengenal hukum dan rasio menyalahgunakan dan melakukan penganiayaan terhadap jenis atau golongan lainnya. Ini adalah pekerjaan yang sudah dilakukan sepanjang sejarah. Dan sekarang juga melakukannya. Tentunya bukan berarti sepanjang sejarah senantiasa demikian dan semua tempat terjadi seperti ini. Bahkan di tempat-tempat lain, yang terjadi malah sebaliknya. Di lingkungan yang di sana logika, akal, hukum dan pemerintahan, atau sebuah tradisi dan adat istiadat khas mendominasi, terkadang yang terjadi sebaliknya. Namun cara yang mendominasi di masa lalu demikian.

Bila kalian merujuk pada buku-buku dan artikel yang telah ditulis, kalian pasti akan melihat pandangan kaum dan bangsa-bangsa dahulu tentang para wanita dan bagaimana cara-cara dan sikap-sikap mereka. Contohnya sebagaimana yang telah disebutkan dalam al-Quran, “wa idza bussyira ahaduhum bil untsa zhalla wajhuhu muswaddan wa huwa kadhim…Dan apabila seseorang dari mereka diberi kabar dengan (kelahiran) anak perempuan, hitamlah (merah padamlah) mukanya, dan dia sangat marah. (QS. Nahl: 58). Apa yang terjadi dalam sejarah benar-benar membuat orang menangis. Ini terjadi karena hilangnya lingkungan akal, tidak menggunakan akal dan tidak adanya hukum. Mungkinkah dalam sebuah hutan yang tidak ada hukum dan tidak ada akal, binatang yang kuat bisa menahan gairah, kecenderungan dan nafsunya yang tidak kenal kenyang di hadapan binatang yang lemah untuk tidak mencabik-cabiknya?

Dengan demikian, bila lingkungan sudah seperti lingkungan hutan, maka masalah wanita dan pria akan menjadi masalah yang pahit dan buruk sebagaimana yang kita saksikan dalam sejarah dan sayang sekali saat ini juga kita masih menyaksikan hal itu di dunia. (IRIB Indonesia / Emi Nur Hayati)

Sumber: Khanevadeh; Be Sabke Sakht Yek Jalaseh Motavval Motavva Dar Mahzar-e Magham Moazzam Rahbari

About admin