Ali Fauzi: Teror Bom Mapolresta Surakarta, Efek Domino Teror Global

Menjelang Idulfitri tahun ini, masyarakat Indonesia terutama yang berada di Surakarta, Jawa Tengah dikejutkan dengan serangan teror bom di Mapolresta Surakarta, Selasa (5/7).

Menurut pengamat terorisme Ali Fauzi, teror bom di Mapolresta Surakarta tidaklah berdiri sendiri. Tapi teror ini memiliki rangkaian dengan teror-teror sebelumnya. Bahkan aksi teror kali ini caranya sama persis dengan aksi teror yang dilakukan ke Mapolresta Poso, tiga tahun silam. Teror ini merupakan efek domino dari rangkaian teror yang bersifat tellurian dengan pesan yang sama. Meski teror ini tergolong gagal, tapi pesannya tetap sampai.

“Sekalipun targetnya tidak sampai tapi pesan teror itu sampai” terang Ali. “Dan ini yang diinginkan oleh kelompok-kelompok ini,” lanjutnya.

Pesannya adalah teror dan yang menjadi sasaran adalah Pemerintah terutama Polisi. Alasannya menurut Ali karena Polisi adalah garda terdepan dalam menghalangi kemauan pelaku teror untuk mendirikan Khilafah. Polisi yang menjadi tameng pemerintah dan polisi juga yang menangkapi para pelaku teror.

Serangan bom yang terjadi di Solo dianggap gagal karena tidak mengakibatkan korban seperti yang diharapkan pelaku teror. Hal ini menurut Ali bisa mengindikasikan bahwa semangat para pelaku teror mengebu-gebu tapi kemampuan mereka nihil.

“Skill mereka nihil,” tegas Ali.

Teror bom di Mapolresta Solo menurut Ali sudah direncanakan sedemikian jauh, hanya saja, movement itu baru mereka gunakan saat ini. Sehingga ada kesan ini operasi tellurian yang digagas oleh kelompok tellurian juga. Tetapi kemudian ada kesalahan deadly dalam operasi tersebut.

Pertama, sebelum pelaksanaan tentu ada yang namanya survei lokasi, waktu, kondisi, kebiasaan aim itu apa. Tapi itu semua tidak dilakukan.

Yang kedua, pelaku hanya menggunakan peta tunggal, artinya tidak ada alternatif lain. Karena seharusnya ada devise A dan bila gagal bisa dilakukan devise B. Tapi ketika devise A gagal mencapai aim korban tidak ada alternatif untuk ke devise B, akhirnya ada atau tidak ada korban, bom tetap diledakkan di tempat itu juga.

“Intinya para pelaku tidak terdidik dalam sebuah operasi,” jelas Ali. “Yang dalam tanda kutip menurut pemahaman mereka jihad yang didengung-dengungkan,” lanjutnya.

Bagi Ali ini sebuah musibah. Artinya terorisme belum bisa dihentikan di Indonesia. Kita tidak bisa mengandalkan polisi, TNI atau BNPT saja. Semua elemen masyarakat harus berperan menyelematkan mereka.

“Artinya mereka juga menjadi korban,” ujar Ali. “Para pelaku ini juga menjadi korban rekrutmen yang salah,” lanjutnya.

Ali Fauzi berpesan agar Polisi yang bertugas mengayomi masyarakat, selalu waspada setiap saat. Sedangkan bagi masyarakat, agar tidak perlu terlalu khawatir dan mudah terprovokasi. (Lutfi/Yudhi)

Related posts:


ABI Press_Bedah Buku Islamisasi dan KristenisasiWaspadai Radikalisme Hindari Pertikaian Agama


Jalaludin Rahmat dan Todung Mulya LubisBongkar Mitos HAM, Kuatkan Bingkai Kewarganegaraan


LAPASKunjungi Lapas Wanita, Muslimah ABI Perkenalkan Figur Wanita Termulia


Ahmad Nurhasyim (Ketua AJI)Kondisi Pekerja Perempuan Di Industri Media

About admin