putri imam

Ketika Farideh Mostafavi, Putri Kedua Imam Khomeini Bercerita Tentang Ayahnya

putri imamMohon kenalkan diri Anda?

 

Saya adalah Farideh Mostafavi, putri kedua Imam Khomeini.

 

Mohon jelaskan tentang nama famili Imam Khomeini dan Anda!

Karena Imam Khomeini datang ke hauzah berasal dari Khomein, di madrasah Feiziyeh beliau terkenal dengan nama Khomeini. Yakni setiap santri yang ingin mengatakan si fulan, mengatakan ‘seorang yang datang dari Khomein atau Sayid Khomeini. Pelan-pelan beliau terkenal dengan Khomeini. Lalu, orang-orang harus membuat kartu tanda penduduk dan ditetapkan bahwa setiap orang harus memilih nama famili. Pada masa itu Imam Khomeini menyukai nama famili ‘Mostafavi’ sementara alasannya apa kami tidak tahu. Beliau memilih nama Mostafavi. Paman tua kami, kakak Imam Khomeini memilih ‘Pasandideh’ dan paman yang lainnya memilih ‘Hindi’. Itulah mengapa nama famili masing-masing dari mereka berbeda.

Mohon ceritakan terkait bagaimana pernikahan Imam Khomeini!

Ibu, ayahnya adalah seorang ulama, terhormat, salah satu imam salat jamaah di masanya dan penulis tafsir dan buku. Kakeknya ibu juga seorang ulama terkenal di masanya. Pernikahan mereka karena adanya hubungan kekeluargaan. Dengan demikian sekelompok keluarga sebagai ulama dan memiliki hubungan persahabatan dan akhirnya terjadilah ikatan pernikahan. Ibu, waktu itu sedang belajar. Pada masa itu ada sekolah-sekolah khusus. Meskipun ibu tinggal di rumah ayahnya, beliau tetap belajar dan Agha (Imam Khomeini) sedang belajar di Qom. Ayahnya ibu di Qom sebagai santri dan putri-putrinya juga berada di Qom. Agha (Imam Khomeini) dan Agha Saghavi memiliki teman yang sama, bernama Agha Lavasani yang keluarganya sekarang juga masih ada. Ketika Agha Lavasani tahu Imam Khomeini ingin menikah, dia berkata kepada Agha, “Agha Saghavi punya anak perempuan dua-tiga orang dan mereka sangat baik. Bila Anda ingin menikah, ambillah salah satu dari mereka!” Agha berkata:

“Kalau begitu Anda saja yang melamarkan!”

Agha Lavasani datang menemui Agha Saghavi, kakek kami untuk melamar. Agha Saghavi berkata, “Menurut saya tidak masalah. Namun dari sisi ibu mereka berada dalam alam lain. Mereka sendiri harus rela.” Kemudian melakukan istikharah dan setelah Agha Lavasani pulang pergi ke keluarga ini, ibu sekali-dua kali bermimpi. Kemudian mau dan menikah. Sementara usia ibu pada waktu itu 15 tahun dan Agha 28 tahun.

Apa sebab Imam Khomeini terlambat menikah?

Agha mengatakan:

“Saya tidak secepatnya merasa ingin menikah. Pikiran saya hanya belajar dan belum ingin menikah.”

Jelaskan tentang pandangan dan tolak ukur Imam Khomeini dan Khanum (istri Imam Khomeini) dalam memilih pasangan hidup!

Tolak ukur Imam Khomeini adalah menikah dengan seseorang dari sebuah keluarga yang beragama dan sudah dikenal. Beliau mengatakan:

“Saya tidak ingin menikah dengan orang Khomein. Karena saya ingin mendapatkan orang yang sekufu dengan saya. Kalau saya belajar, sayang ingin mendapatkan istri yang sepemikiran dengan saya. Kesimpulannya adalah saya harus menikah dengan orang dari Qom dan dari keluarga ulama dan selevel dengan saya.”

Karena ketika Imam Khomeini berusia 28 tahun beliau sudah berhasil menulis beberapa buku, sementara di Khomeini pada masa itu rata-rata pendidikan keluarga berada di tingkat rendah. Itulah mengapa Agha Lavasani berkata kepada Imam Khomeini, “Agha Saghavi dan keluarganya punya syarat-syarat ini. Selain beragama, dari sisi pemikiran termasuk yang terbuka pikirannya. Akhirnya setelah lamaran dan acara sederhana, Imam Khomeini menyewa sebuah rumah di Qom dan jahiziyeh (parabot rumah) ibu dibawa dan mengadakan resepsi pernikahan.

Dari sisi materi Imam Khomeini memiliki fasilitas apa saja?

Tentunya Imam Khomeini memiliki warisan dari ayahnya. Beliau mendapatkan harta peninggalan dari ayahnya. Imam Khomeini bukanlah seorang santri yang hanya menjalani hidupnya dengan uang bulanan yang didapatkan dari hauzah. Oleh karena itu Imam Khomeini bisa menyewa sebuah rumah. Rumah sewaan meskipun kecil tapi beliau sendiri bersama istrinya dan tidak tinggal barengan dengan para penyewa lainnya. Ibu juga membawa perabot rumah tangga, dan Imam Khomeini tidak memiliki barang selain barang-barang yang diambilnya dari madrasah Feiziyeh setelah sebulan atau dua bulan. Ibu menceritakan, “Ada satu (gelim) karpet, satu kasur, kompor kecil, dua lampu templek, satu ceret, dan gelas dan lepeknya serta panci sangat kecil. Tentunya setelah satu-dua tahun beliau mendapatkan warisan berupa barang-barang dari ayahnya (Karena ketika usia lima bulan ayahnya mencapai syahadah karena dibunuh) yang dijaga oleh Agha Pasandideh. Barang-barang itu dikirim untuk Imam Khomeini dan dibilang bahwa barang-barangnya juga kuno. Ada sejumlah wadah sangat kuno dan beberapa karpet kuno yang sudah jelek. Pokoknya kehidupan seorang santri yang juga terhormat.

Meskipun ayahnya adalah orang yang kaya, tapi resepsi pernikahannya sangat sederhana. Acara resepsi dihadiri oleh para sanak kerabat dan sahabat dekat.

Bagaimana sikap Imam Khomeini terhadap istrinya?

Ibu menikah dengan Imam Khomeini ketika sudah menyelesaikan kelas sembilan, yakni lulusan SMP. Kemudian ibu belajar bahasa Arab pada Imam Khomeini sampai ketika melahirkan anaknya yang kelima, ibu tetap masih belajar kepada Imam. Ketika adik perempuan saya lahir (anak kelima) ibu berhenti dari belajar karena banyak kerjaan dan kesibukan. Tentunya Agha (Imam Khomeini) senantiasa siap untuk mengajari ibu. Demi kemajuan ibu, beliau senantiasa memberikan semangat kepada ibu untuk belajar dan menguasai ilmu pengetahuan.

Sikap Imam Khomeini terhadap istrinya benar-benar penuh keakraban dan kasih sayang sekaligus benar-benar penuh penghormatan. Dalam urusan pribadi dan kekeluargaan, pendapat ibu sangat dihormati dan tidak mencampuri urusan dalam rumah sama sekali. Tentu saja ibu sangat menjaga dan tidak melangkah sama sekali di luar keinginan dan keridaan Imam Khomeini. Sejak di awal-awal pernikahan, Imam Khomeini berkata kepada ibu:

“Saya ingin kamu mengerjakan kewajibam-kewajiban dan berusahalah untuk tidak mengerjakan yang haram. Tapi terkait urusan sosial tidak ada masalah dan engkau bebas.”

Imam Khomeini dalam kehidupan sehari-hari tidak mempersulit sama sekali. Terkait masalah keluar rumah dan memakai pakaian ibu memiliki kebebasan dan benar-benar menjaga jangan sampai bermaksiat. Beliau benar-benar menyayangi dan menghormati ibu, sehingga kami anak-anaknya juga terpengaruh oleh sikap-sikap beliau. Kami sejak awal membuka mata, menyaksikan bahwa selama ibu belum berada di tepi hidangan makanan dan belum mengambil makanan, Imam Khomeini sama sekali tidak pernah mendahului untuk duduk di tepi hidangan makanan dan memakan makanan yang ada. Dengan sendirinya kami juga bersabar sampai ibu kami datang dan memulai makan, kemudian kami menyusulnya untuk makan juga.

Saya masih ingat ketika masih kecil bermain bola di dalam kamar dan kami menendang bola dan memecahkan kaca. Ayah marah dan datang untuk menegur kami mengapa kalian melakukan hal ini? Saya menjawab, “Ibu menyuruh kami, bermainlah, tidak masalah.” Begitu saya mengatakan hal ini, beliau tidak berbicara apa-apa lagi. Kemudian beliau pergi keluar kamar. Kalau beliau, mau bisa saja untuk menjatuhkan sanksi kepada kami, tapi tidak melakukannya.

Sama sekali kami tidak pernah melihat beliau berkata kepada ibu, “Kerjakan pekerjaan fulan untukku!” atau bahkan “Tuangkan teh untukku!” Beliau senantiasa memanggil kami atau pembantu rumah. Bila suatu hari tidak ada siapa-siapa beliau mengatakan:

“Khanum! Katakan agar mereka membawakan teh untukku!”

Nah. Bila tidak ada siapa-siapa di rumah, ibu yang melakukannya sendiri tapi Imam Khomeini tidak pernah menyuruhnya. Beliau senantiasa menghormati ibu dan sering sekali menyampaikan rasa kasih sayangnya dan secara terang-terangan menyampaikan rasa kasih sayangnya di depan kami anak-anaknya.

Bila suatu hari ibu memasak, meskipun masakan itu tidak enak, tidak seorangpun boleh memprotesnya dan Imam Khomeini memuji masakan itu.

Bila ibu melakukan pekerjaan di dalam rumah meskipun hanya memindahkan gelas dari tempat yang satu ke tempat lainnya, sementara kami anak-anaknya sedang duduk-duduk, dengan rasa tidak suka Imam Khomeini berkata kepada kami:

“Kalin duduk-duduk saja, sementara ibu sedang bekerja.”

Bila suatu hari Imam Khomeini melihat ibu sedang mengerjakan sesuatu di rumah, maka hari itu adalah hari duka Imam Khomeini dan mengatakan:

“Ibu kalian lebih baik dari kalian. Tidak seorangpun bisa seperti ibu kalian.”

Bila suatu saat kami dua atau tiga orang menemui Imam Khomeini dan berbicara, Imam mengatakan:

“Mengapa kalian duduk-duduk di sini, sementara ibu kalian sendirian di halaman, pergilah ke sisi ibu kalian dan ajaklah bicara.”

Suatu hari Imam Khomeini sakit dan ibu juga sakit, kami biasanya dua atau tiga orang berada di rumah, bila salah satu dari kami duduk didekat Imam, beliau langsung mengatakan:

“Saya tidak memerlukan seseorang, tunggui ibu kalian.”

Dan beliau meminta kami keluar dari kamar.

Imam menetapkan bahwa setiap tahun ibu hendaknya pergi ke Tehran dan tinggal di Tehran selama tiga bulan musim panas. Beliau sendiri pergi ke Khomein. Program ini selalu berjalan bahkan sampai kami besar tetap berlanjut. Imam tidak suka bila ibu pergi di musim dingin. Bila ibu sedang bepergian, Imam merasa sedih sampai ketika ibu datang. Imam Khomeini akan tertawa ketika ibu masuk rumah. Dan ini adalah salah satu penyampaian rasa kasih sayang Imam Khomeini kepada ibu.

Bagaimana reaksi ibu Anda ketika menghadapi masalah?

Ibu juga sangat menghormati Imam Khomeini. Ibu sangat sabar. Ibu termasuk anak perempuan yang besar di Tehran dan di sebuah keluarga yang memiliki fasilitas yang cukup bagus. Kemudian harus hidup di Qom. Seseorang tidak akan bisa membayangkan bagaimana kondisi Qom sekitar enam- tujuh puluhan tahun yang lalu selama ia belum pernah melihat. Sementara ibu bisa bertahan hidup di sana. Itu karena kasih sayangnya kepada Imam Khomeini dan kasih sayang Imam Khomeini kepadanya. Ibu bertahan menghadapi rasa keterasingan dan hidup di pengasingan. Saya masih ingat dalam mengasuh anak, sebagai ibu rumah tangga dan menyambut tamu serta mengerjakan pekerjaan lainnya beliau tidak pernah mengeluh.

Misalnya pada masa perjuangan, masa-masa sedih dan pengasingan, ibu senantiasa memberikan semangat. Salah satu masalah yang di kemudian hari kami baru tahu adalah ketika kali terakhir Imam Khomeini ditangkap dan diasingkan ke Turki, di detik-detik terakhir Imam Khomeini menyerahkan stempelnya ke tangan ibu seraya berkata:

“Di sisimu saja amanat ini dan jangan bilang kepada siapa-siapa!”

Ibu tidak mengatakannya kepada siapapun dan stempel itu tetap di sisinya. Kemudian Imam Khomeini dari Turki menuju Najaf. Beberapa bulanpun berlalu. Di masa itu saudara lelaki kami pergi ke Turki dan Najaf. Tapi ibu tidak membicarakan masalah ini kepada siapapun meskipun dengan saudara lelaki kami.

Ibu juga tidak pernah mengatakan kepada Imam Khomeini, “Mengapa engkau melakukan ini. Akhirnya bagaimana? Apa hasilnya? Atau tidak ada faedahnya? Di hari-hari perang juga beliau tidak pernah menyampaikan rasa lemah atau rasa takut dan senantiasa menjadi penguat hati bagi yang lainnya. Hal-hal seperti dalam kehidupan seorang lelaki merupakan syarat yang sangat penting yakni istrinya tidak boleh takut terhadap apapun dan harus menghadapi semua masalah dengan lapang dada. (IRIB Indonesia / Emi Nur Hayati)

Dikutip dari penuturan Farideh Mostafavi, anak Imam Khomeini ra.

Sumber: Pa be Pa-ye Aftab; Gofteh-ha va Nagofteh-ha az Zendegi Imam Khomeini ra, 1387, cetakan 6, Moasseseh Nashr-e Panjereh.

 

Sumber : Irib Indonesia

About admin